31
Mei
08

Republik Macet

Malam minggu, seperti biasa setiap malam ini adalah waktunya untuk berkunjung ke masjid Istiqlal untuk mentoring alias liqo. Dan seperti biasa pula saya tidak bisa datang tepat pada waktunya. Well, it’s my mistake tough. Saya langsung menghubungi Hadi dan mengabari kalo saya datang telat.

Masuklah saya ke warung makan di balubur. Eh, tak disangka-sangka bertemu Lizi dan Mbu disana. Well, makanlah kami bertiga disana (sambil masih melihat jam, harap-harap cemas supaya tidak telat cukup lama). Waktu masih mennujukkan puul 19.09 ketika saya keluar dari Warung tersebut. Saat Caringin-Sd. Serang lewat (ini nama angkot bagi yang tidak tahu) waktu masih berdetak cukup lambat.

Hingga akhirnya saya menyadari kebodohan orang yang naik angkot ketika harga BBM naik. Para sopirnya ngetem lebih lama dari biasanya!!! Oh my god! seketika saya berpikir kalo saja tiap angkot di Bandung masing-masing ngetem 15 menit seperti yang saya alami maka berapa banyak pemborosan yang terjadi. Kalo tiap mesin dalam keadaan stand by 1 menit menghabiskan kira-kira 20 cc BBM. Berapa yang terbuang untuk 15 menit itu = kira-kira 300cc BBM alias 0,3 liter. Kecil? mungkin bila hanya satu angkot saja yang seperti itu. Kalo di bandung (yang sudah penuh dengan angkot dengan tingkat pasar yang sangat jenuh, sehingga membuat dunia perangkotan di sini sudah menjadi lautan merah dalam istilah buku the blue ocean strategy) terdapat sekitar 1000 angkot (padahal saya tahu kalo angkot di bandung lebih daripada ini)) dengan rata-rata ngetem satu jam tiap narik berapa BBM yang terbuang? 1,2 liter * 1000 = 1200 liter. Pantes negara ini kekurangan bahan bakar minyak. Boros sih.

Belum lagi saya melihat kejadian biasa di Dago setiap malam minggu. Ya apa lagi selain si komo lewat. MACET. Duh, malas banget ga sih melihat keadaan yang seperti ini. Angkot ngetem aja udah ngabisin 1200 liter bahan bakar apalagi dengan macet.

Alhasil saya datang ke tempat liqo dengan tampang mesem-mesem karena telat lebih dari 30 menit. Buset dah, perjalananan jalan kaki ngabisin cuma 15 menit, ini naik angkot ngabisin lebih dari 40 menit. Mau dibawa kemana bangsa ini????

Anti Klimaks: Yandi juga sering telat, dan macet atau angkotnya ngetem lama sering saya pakai alasan buat telat. Tapi saya sedang berusaha memperbaiki diri juga. Minimal dengan tidak telat lebih dari 15 menit (he he he, bokis banget ga sih). Tapi masa dengan keadaan bangsa dimana mestinya kita berhemat malah dipake dengan menghamburkan BBM. Mestinya sopir angkot baca tulisan saya….

Peace, demi Indonesia yang lebih baik ^_^

Ngetem adalah… Berhenti di suatu tempat cukup lama untuk menunggu penumpang masuk, berlaku untuk angkot, andong, dan kendaraan umum lainnya (sumber: Kamus Besar Bahasa Orang Keren, pengarang A R Sofyandi S, 2008.) 8)


0 Responses to “Republik Macet”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Human Calender

My beloved reader

  • 122,601 orang

Survei Mahasiswa

Tok…Tok… Anybody Home?

A little bit about my personality

Click to view my Personality Profile page

Our visitors


%d blogger menyukai ini: