13
Okt
08

Saat Sampah Kita Sebut Sebagai Film

Hmmmf… Apa sih kerjaan orang-orang di lembaga sensor film saat ini? begitu juga dengan ulama-ulama di MUI? Atau Mahasiswa-mahasiswi idealis yang berkata kalo dirinya adalah penjaga nilai-nilai? Guardian of value? Dimana kalian sekarang??? Masa sampah disebut film???

Pikiran yang terlintas ketika menonton film Chika

Jujur saja, kalau saja bukan karena ajakan teman baik saya yang sudah susah payah menjemput saya di Cengkareng dan mentraktir saya main di Ancol, Rasanya tidak mungkin saya menonton Film-Remaja-Perusak-Moral ini. Well, selera teman saya Yang-Namanya-Tidak-Akan-Disebut (YNTAD) ini memang cukup aneh. Pertama, dia berhasil mengajak saya menonton film Kawin Kontrak beberapa bulan lalu. Dan sialnya dia bilang film ini bagus karena pemerannya “lucu”. Kemudian pada hari kamis tanggal 9 Oktober pukul 22.00 WIB kemarin dia berhasil menjebak saya kembali menonton salah satu film Indonesia terburuk lain, Chika.

Benar-benar terjebak. Sepanjang film saya sibuk mengutuk film ini. Inilah akibatnya kalau memilih film cuma dari posternya saja.

Alhasil, saya tinggalkan YNTAD di saat 20 menit menjelang akhir film, bukan karena saya tidak tahu sopan santun pada teman saya ini. Melainkan karena saya harus mengejar travel X-Trans saya yang akan berangkat pukul 23.45 WIB (karena besoknya ada briefing Galasin di lapangan basket CC). Meski tidak dapat saya sembunyikan perasaan bahwa saya akan muntah kalo menonton film ini sampai akhir (peace ya YNTAD🙂 )

Sinopsis film ini sendiri lebih baik bila dibaca di blog ini

Bisa dibilang selera kita sebagai penonton sering dianggap remeh oleh para produser film Indonesia. Okelah, kita lihat bahwa Laskar Pelangi dan Janji Joni adalah film yang bagus bagi orang-orang dengan selera tinggi. Tetapi disamping film-film bagus seperti LP, tumbuh subur pula film-film pengumbar syahwat dengan tujuan mengeruk uang sebanyak-banyaknya dari penonton baru akil balig dengan pikiran masih polos. Kenyataanya film-film ini berating “Remaja” meski sesungguhnya lebih cocok dengan rating “Dewasa”. Apakah ini merupakan strategi pasar supaya mendulang penonton dalam pasar lebih luas? Terutama penonton ABG? Dan film-film ini ternyata laku di bioskop sekitar kita… Damn!

Ciri-ciri film ini relatif sama. Tampilkan aktor atau aktris berpenampilan menarik dengan proporsi badan yang bagus. Kemudian minta si aktris untuk mengenakan pakaian dengan batas rok atau celana beberapa puluh centi diatas lutut (“Bupati”, Buka paha tinggi-tinggi) dengan belahan dada rendah (“Sekwilda”, Sekitar wilayah dada). Berikan jalan cerita remeh temeh seperti cinta monyet atau perselingkuhan. Terakhir, minta si aktris, yang notabene masih berusia belia, untuk melakukan adegan ciuman, pelukan, atau tidur bareng dengan si aktor cowok (yang juga masih berusia muda). Ckckckck… Mau dibawa kemana moral bangsa ini???

Sedihnya lagi, film-film ini nampaknya memang rencana dirilis pasca lebaran. Film seperti Kutunggu Jandamu, Barbie, Kawin Kontrak lagi, dan Suami-Suami Takut Istri… Well, memang bulan syawal berarti iblis-iblis sudah lepas dari kerangkengnya, tampaknya. Termasuk juga iblis syahwat yang tertawa terbahak-bahak ketika anak-anak dibawah umur menonton sampah yang kita sebut film ini. Apakah ini berarti kita sudah kehilangan sense of crisis kita?

Saya tidak bermaksud menggurui sama sekali terhadap para penonton film-film Indonesia. Tapi saya berusaha untuk mengaplikasikan ilmu yang saya dapat dari FIM dulu. Menonton film pengumbar syahwat berarti membiarkan meme yang jahat bercokol di dalam otak anda. Jangan heran apabila banyak terjadi kasus perkosaan anak di bawah umur atau pelecehan seksual di media masa. Dan juga jangan heran lagi, saat sense kita menjadi tumpul karena sudah terbiasa dengan hal-hal ini, maka sudah saatnya standar moral bangsa ini dipertanyakan.

Maka teman, disaat kamu merasa joke yang seksual dari film-film diatas menghiburmu hingga tertawa terbahak-bahak. Maka ingatlah, si fulan (berusia belasan tahun) yang memperkosa si fulanah (berusia dibawah jumlah jari tangan kita) karena hewan moluska diantara pahanya berada dalam kondisi libido tinggi karena film-film sejenis ini. Atau cerita tentang kakek yang memperkosa cucunya sendiri. Ataulah cerita tentang pasangan remaja belia yang apes karena mesti menikah karena kondomnya bocor. Apakah pernah terpikir olehmu tentang hal ini? Pilihlah tontonan yang bersahabat dan cerdas. Jangan biarkan sampah berada dalam hidupmu. Bukankah kita sebagai penonton memiliki hak untuk memilih?

Kemudian saya bertanya-tanya… Apakah para produser film ini sudah tidak menemukan ide yang menarik lagi untuk dijadikan film? Well, maaf saja saya bukan ahli dalam perfilman, tetapi bagi saya menonton film adalah menonton sesuatu yang kreatif. Kreatif dalam artian selalu ada hal yang baru untuk ditambahkan, menambah nilai dalam kehidupan peradaban manusia. Atau jangan-jangan inilah resep pengeruk uang paling jitu? Please deh, bahkan dalam setiap franchise film James Bond yang penuh dengan adegan bobo bareng pun mereka masih punya selera untuk membuat film dengan jalan cerita yang bagus. Bukankah kita orang timur yang konon katanya memiliki standar moral yang tinggi? Kemana perginya rasa malu itu???

Buat anda yang merupakan bagian dari film-film yang saya bahas diatas, baik pembuat maupun penontonnya, saya mohon maaf apabila kata-kata saya terlalu kasar dan keras. Tapi ini merupakan bentuk keprihatinan saya terhadap kondisi yang akut ini. Hal ini saya utarakan karena saya percaya bahwa kemungkaran merajalela bukan saja karena orang jahat mampu melakukan kemungkaran tesebut, melainkan juga karena orang baik membiarkannya terjadi. Dan untuk anda produser film, sutradara, maupun penulis naskah, belajarlah dari Laskar Pelangi, Denias, Janji Joni, maupun Dragon Zakura. Belajarlah dari Andrea Hirata, Riri Riza, dan Garin Nugroho. Masih banyak tema-tema menarik untuk dijadikan film yang bagus, salah satunya adalah mengenai mimpi dan cita-cita… Topik postingan saya berikutnya.

Maju terus perfilman Indonesia!!!


10 Responses to “Saat Sampah Kita Sebut Sebagai Film”


  1. Oktober 13, 2008 pukul 3:21 pm

    itulah yan…

    dunia hiburan Indonesia nampaknya terkena virus yang sama semua: orientasi uang! tau sendirilah, pasar mayoritas kita kayak gimana…kalo pasar sukanya film sampah, ya tentu dituruti lah sama produsennya.. daripada susah susah bikin film bagus, yang belum tentu laku, mendingan bikin film sampah, yang gampang bikinnya, dan jelas pasarnya. dari segi ekonomi, tentu tindakan ini dapat dibenarkan.

    tapi pandangan dari segi ekonomi itu sayangnya terlalu sempit.

    film adalah produk budaya, produk kemanusiaan. kalau mereka memproduksi film hanya demi alasan ekonomi semata, tanpa memperhitungkan nilai estetika maupun pesan-pesan yang disampaikan, tentu ada yang salah pada dunia film ataupun dunia hiburan kita.

    kalau industri film indonesia mau maju dari segi ekonomi ataupun estetika, mau tidak mau diperlukan niat baik dari para pelaku film, untuk berhenti membuat film sampah, dan belajar untuk membuat film bermutu….

    ah,, kapan lagi ada film sebagus fiksi dan laskar pelangi…

  2. Oktober 14, 2008 pukul 10:28 pm

    hohohoo,,

    y bgitulah k,,
    tema-tema seperti itulah yang anehnya laku dijual ke pasar,,ntah kenapa insan film sepertinya sangat mudah membuat film seperti itu,,pake bintang film yang terkenal,,padahal jalan cerita gk bgitu bagus,,
    Selama ini saya jarang nonton film indo di bioskop hanya beberapa kali, dan yang memuaskan hanya Petualangan sherina dan laskar pelangi,. sisanya y gitu, ternyata isinya biasa aja, gk ada muatannya.

    yang dikejar hanya komersial aja, ,yang penting laku dijual, gak peduli isinya seperti apa,,
    smoga kedepannya makin banyak sineas-sineas yang mampu membuat tontonan bermutu dan mendidik.

  3. Oktober 15, 2008 pukul 9:38 pm

    Ayo budidaya film yang bermutu….. Mau jadi Sutradara ga yan? Ntar kita buat industri per filman setelah rencana pertama selesa….:D

  4. Oktober 16, 2008 pukul 4:10 pm

    bersabarlah… yaaaah begitulah kebanyakan sineas indonesia… mati ide…

  5. 5 yandhie
    Oktober 18, 2008 pukul 10:37 pm

    @ Hadi: Jadi produser film aja yuk.. mau ga???
    Saya pengen punya perusahaan animasi kayak Pixar ato Disney di…
    Ini merupakan salah satu obsesi saya dari SMA. Menciptakan perusahaan animasi dengan basis pendidikan.

    Dan Pengen memasukkan ilmu agama dan moral ke dalam film animasi. Seperti Ipin dan Upin atau Kungfu Panda. Tentunya setelah rencana pertama kita terlaksana…. Amin

  6. Oktober 22, 2008 pukul 12:52 am

    dengan senang hati….. Nanti saya akan hubungi untuk rapat on line… Mungkin 5 atau 6 tahun lagi… Kemarin sudah beritahu kasyfi…

  7. 7 zaoldyckngeblog
    Oktober 23, 2008 pukul 11:39 pm

    ….karena hewan moluska diantara pahanya berada dalam kondisi libido tinggi..

    Lucu sekali!!!

    gila kau, jenius sekali memetaforakan Mr P menjadi moluska,,,

    sumpah, agak lama sebelum gua bisa berhenti tertawa,,

    iya deh,, ntar gw bikinin pilem bagus,, tenang aja,,

    kalo deadline gw dah beres gw penuhi semua.

  8. November 12, 2008 pukul 7:51 am

    aha! gw mau da kalo jadi sutradaranya!!! hehehe…

  9. 9 Maghleb Elmir
    Januari 27, 2009 pukul 10:41 pm

    gk usah ditonton..
    produser beranggapan,,film dengan tema2 demikian itu,adalah film yg biaya produksi rendah,,tapi diminati pasarr..

    mari kita stop pasarannya..kampanyekan “penonton pintar,tidak menonton film SAMPAH!!!”

    *atau dengan kata lain,,klo film beginian masih laku,,berarti maaf saja..selera org Indonesia kebanyakan memang secetek itu🙂

  10. 10 khansa
    April 20, 2009 pukul 10:24 am

    yupz…
    stujuuuu banget..
    emang dunia hiburan qt skrg tmbh parah,,
    yg lbh parah lg,,
    msyrkt ngr lain,,menganggap apa yg di-filmkan itu adlh bdy kita,,gUbrAk,,
    karena nila setitik rusak susu sebelangga..
    tp apa iya setitik??kyknya gak ya,,udah berpuluh titik bhkn lbh sehingga mgkn wajar klo mereka beranggapan demikian
    kapan yah perbaikannya??truss pd kmana pihak2 yg sepatutnya??
    wah mas kira2 gmn nih mo benerin kebobrokan ini??
    hayooo pemuda-pemudi.,sang anak bangsa,,ibu kita lagih sakit nih!?!?!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Human Calender

My beloved reader

  • 122,601 orang

Survei Mahasiswa

Tok…Tok… Anybody Home?

A little bit about my personality

Click to view my Personality Profile page

Our visitors


%d blogger menyukai ini: