28
Okt
08

Sumpah Pemuda Atau Sumpahi Pemuda?

Tanggal berapa hari ini? 28 Oktober 2008 huh? It’s remind me of something…

Sesuatu dari pelajaran sejarah jaman SMA dulu terbayang di kepala…

Hmmmf… 80 tahun sumpah pemuda. Sudah selama inikah? Kok kita gini-gini aja sih?

Lets see what is happen(ing) with our country…



Berbahasa Satu? Bahasa menyebabkan kita bersatu. Sekalipun kita sering memakai bahasa asing (biar keren!) tetapi tanpa bahasa indonesia, kita tidak mungkin bersatu.

Tapi…

Berbahasa satu terkadang membuat kita melupakan bahasa daerah. Ambil contoh bahasa Banjar, bahasa ini terlupakan seiring dengan maraknya pemakaian bahasa Indonesia oleh para pendatang. Mungkinkah bahasa-bahasa daerah akan (atau jangan-jangan sudah) punah? Di kota saya mungkin saja. Di Banjarbaru sudah jarang orang memakai kata ikam (kamu dalam bahasa), pian (anda), atau handak (mau). Yang terpakai bahasa Indonesia yang tidak baku.

Sedih, akar saya sebagai orang banjar kian menghilang. Dan melebur menjadi orang indonesia dengan citarasa metropolis keJakartaan (lu-gue style).

Bertanah air satu? Benarkah? Ingat kasus Sipadan-Ligitan? Kita hidup di negara yang “terpaksa” memberikan kedua pulaunya kepada begara tetangganya. Dan di mahkamah internasional kita kalah, hanya karena kita tidak bisa merawatnya. Merawat pulau yang bisa menjadi aset parawisata kita.

Okelah itu masa lalu. Bagaimana dengan sekarang? Kontrak dengan perusahaan sekelas Freeport yang jelas-jelas mengambil emas di tanah kita sekalipun bahkan diperpanjang. Padahal kontrak tersebut cuma untuk penggalian perak doang. Bangsa ini pun cuma mendapatkan beberapa persen dari hasil kekayaan alamnya. Porsi yang lebih besar kita berikan kepada para imperialis modern itu. Lucunya, kita bangga bisa kerja di perusahaan mereka.

Disamping itu, adakah kita benar-benar bangga jadi orang Indonesia? Sekedar kilas balik pengalaman saya pulang dari Malaysia. Satu hal yang membuat saya terkejut adalah di saat keluar dari pesawat dan pengecekan passport saya melihat banyak orang mengantri dimana hal itu sangat kontras dengan bandara internasional Malaysia. Dan yang lebih membuat saya trenyuh adalah tulisan di sana: “SELAMAT DATANG TKI, SELAMAT DATANG WAHAI PARA PAHLAWAN DEVISA”, disertai dengan para TKI yang notabene adalah PRT (pembantu rumah tangga) di negara-negara jiran.

Coba pikirkan bagaimana perasaaan turis asing ketika melihat tulisan itu. Mereka akan memandang Indonesia sebagai gudang dari pekerja murah meriah yang dapat diimpor ke negara mereka sebagai objek atau benda, bukan sebagai manusia lagi. Apa bedanya dengan perbudakan modern?

Tidak heran, pramugara di pesawat Malaysian Airlines memandang remeh kepada kami, FT04 yang kulker di Malaysia…”Hmmf… Indonesian, cheap workers in business class heh? You pasti ngejual ginjal you to achieve tiket pesawat ni”

Berbangsa Satu? Harus diakui, proklamasi kemerdekaan dan sumpah pemuda adalah metoda yang lebih efektif daripada sumpah palapanya Gajah Mada. Kenyataannya kita sekarang adalah bangsa yang masih bersatu, dari Aceh hingga Papua. Negara yang besar, dengan kekayaan alam dan suku bangsa yang beraneka ragam.

Dan sayangnya hal ini terkadang membuat kita terlena.

Coba lihat seberapa besar kekayaan alam yang benar-benar mampu kita kelola. Ini merupakan kritik kepada para mahasiswa, insinyur, dan ilmuwan Indonesia, termasuk kepada diri saya pribadi. Kita hidup di surga firdaus dimana setiap kebutuhan pokok kita dapat terpenuhi. Sehingga melupakan aspek IPTEK untuk membangunnnya, jadilah bangsa ini berada pada di peringkat bawah dalam indeks pembangunan manusia (Human Development Index) dibanding dengan negara-negara lain dari seluruh dunia.

Dan saking nyamannya hidup kita, para tetangga dapat dengan tanpa permisi mamatenkan kekayaan bangsa budaya kita tersebut. Angklung, Batik, Tahu Sumedang, dan entah apa lagi yang dapat mereka akui sebagai milik mereka. Atau jangan-jangan Candi Borobudur dan Roy Suryo juga akan mereka akui sebagai kekayaan mereka… Bagi saya silahkan saja mereka mengakui Roy Suryo, toh kerjanya cuma mengbuktiin gambar porno doang😛

Selain itu, coba lihat kekayaan intelektual bangsa ini. Yang bagus dibajak dan yang jelek dibiarkan beredar dengan luas. Bagi saya tidak masalah film-film seperti Chika atau DO dibajak. Tetapi jangan LP. Juga jangan biarkan mental pemuda kita dirusak oleh materi-materi yang tidak bermanfaat seperti situs porno dan kawan-kawannya. Kalo mau merusaj mental bangsa saya kasi metode yang lebih baik, kasi buku Erwin Kreyzig ke anak SMA kelas satu… Niscaya mentalnya pasti akan rusak he he😉

Bangsa ini bangsa yang besar. Para pemudanya adalah orang-orang pilihan. Kita hidup di surga dunia yang semua orang iri pada kita. Jangan hancurkan surga itu. Bangunlah menjadi lebih baik. Jangan sampai kita menjadi pemuda yang disumpahi karena gagal membangun bangsa ini.

Jadi yang benar yang mana? Sumpah pemuda atau sumpahi pemuda?


0 Responses to “Sumpah Pemuda Atau Sumpahi Pemuda?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Human Calender

My beloved reader

  • 122,601 orang

Survei Mahasiswa

Tok…Tok… Anybody Home?

A little bit about my personality

Click to view my Personality Profile page

Our visitors


%d blogger menyukai ini: