31
Okt
08

Sebuah Cerpen dari Sahabat

Pengen nulis sesuatu, tapi apa ya???

Bingung…

Iseng-iseng lihat hardisk, membaca sesuatu yang menarik. Ada file dari *****. Sebuah cerita pendek a.k.a cerpen.

Jadi kepikir buat naro di blog ini…


Saya apreciate banget ama yang nulis. Dia sahabatku di SMA. Sama-sama gila, sama-sama konyol, sama-sama sok idealis, dreamer too… Orang-orang bilang kami “cocok”, tapi jelas bagi diri saya. Seorang sahabat jelas lebih berharga daripada pacar. Akhirnya status kami tidak naik-naik he he😀

***

Sofia, Perpisahan Itu Mengandung Dua Arti

***

DULU sekali sebelum kamu pergi. Meninggalkan kota kecil ini, aku sering mengirimimu
puisi-puisi, setiap hari malah. Aku juga sering membaca puisi-puisi itu disabtu sore
sambil menunggu waktu malam yang tidak kalah indahnya. Apapun cuacanya di malam
minggu tetaplah mengasyikkan bagi kita. Kita ke warnet bersama. Makan kacang rebus
di taman air mancur. Atau kamu menonton aktingku di taman van der vijl. Kamu juga
sering memarahi aku tanpa sebab yang pasti. Kamu keluarkan umpatan-umpatan yang
tidak berasalan kehadapanku. Tapi aku hanya diam, aku tidak kuasa membalas
umpatan-umpatan itu. Karena satu dan lain hal.

Dihari minggunya, kita latihan teater bersama pula. Aku selalu bilang bahwa aktingmu
bagus, jika kamu minta penilainku. Aku tidak mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya
ingin kamu senang, aku tidak mau ada kata-kata yang keluar dari mulutku menyakiti
perasaanmu. Kamu perempuan Sofia, tentunya pula sensitif. Aku tidak mau kamu
tersinggung. Bukankah berbohong demi kebaikan itu dianjurkan? Kadang, sorenya aku
mengantarkanmu berkunjung ke rumah pamanmu. Lantas aku memboncengmu bersama
kendaraan yang kupinjam dari tetangga sebelah rumahku. Aku sering ngerem mendadak.
Dan kamu memukul pundakku, kamu bilang kamu nggak suka. Tapi aku suka, kapan lagi
ada kesempatan berdekapan tanpa sengaja seperti ini, pikirku.

Senin, selasa, rabu hingga sabtu kita ke sekolah bersama. Kita diajar oleh guru-guru
yang sama. Kita melewati waktu istirahat bersama. Lalu pulang bersama. Kita tak
pernah bosan dalam kebersamaan itu, meskipun kadang-kadang kita tidak akur.

Waktu tiga tahun dibangku SMA terasa sangat singkat, Sofia. Tiga tahun bersamamu
terasa pendek, dibandingkan waktu pelajaran yang dijalani walau cuma empat puluh
lima menit di setiap mata pelajaran. Aku merasa jenuh jika harus memperhatikan
penjelasan dari guru. Aku lebih suka, merangkai kata demi kata lalu kukirimkan
kepadamu. Pernah suatu kali, aku ketahuan oleh guru, aku kena skors. Ia juga
menyuruhku membacakan apa yang sudah aku tulis di podium, tempat pembina upacara
memberi amanahnya. Dapat terbayangkan, bagaimana reaksi adik dan kakak kelas. Mereka
me-huhui aku. Seharusnya aku malu, tapi karena aku peteater aku tidak sedikitpun
merasakan malu. Justru aku bangga. Malah aku bermonolog di atasnya.

Kamu tidak tahu betapa gelisahnya aku jika mataku mulai disirep kantuk. Aku takut
jika harus memejamkan mataku. Aku takut kalau-kalau di dalam mimpiku tidak ada
dirimu, atau melihatmu bersama lelaki lain. Aku begitu takut. Segeralah aku meminum
obat penolak kantuk dan kembali merangkai kata ke dalam puisi. Yang akan kukirimkan
kepadamu jika pagi menjelma. Aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan membuat
puisi ketimbang belajar atau mengerjakan pe-er.

***

24 Juli 2005

Kukirimkan sebuah catatan harianku yang isinya tentang aku selama dua tahun
terakhir. Selepas perpisahan itu. Bunyinya seperti ini;

Aku sudah susah membuktikan betapa ternilainya senandung sempana jiwa di bab
terakhirku. Ya. Itulah adanya.

Aku tahu tapi kejanggalan akan cermin yang kulihat kemarin tidak menimbulkan
bayangan, aku hanya melihat sinar yang lelambaiannya tak nampak. Pekat pula.
Sementara aku baru mempersiapkan diri untuk juga ikut pada peperangan yang salah
satu pemrakasa serta pengrobohnya, aku.

Sementara aku berkecamuk dalam diri, sekitar baik kawanan menuding sebagai insan
yang naïf. Aku betul-betul aku. Hingga aku kehilangan bentuk, remuk di situ juga.
Redamnya utopia di mukaku adalah berkat kesetiaanku yang selalu menyerukan senandung
jiwa di bab terakhir.

Sungguh aku malu. Maka dengan ini semua aku akan buktikan, aku akan menjauhi apa-apa
yang membikin hubungan kita merenggang. Sekali lagi. Karena itulah adanya. Aku
begitu memilukan, sebab jiwa yang pernah kujalankan pernah memaksakan ribuan hasrat
untuk menikam dan ke langkah itu lagi. Aku pura-pura lupa dan tidak mengetahuinya
bahwa suatu saat akan ada balasan dari seluruh torehan yang dieja pada
sempana-sempana melodi dari jiwa yang tak berkeseduhan.

Yang menyetiaimu,

***

Sudah ribuan puisi aku pintal, Sofia. Kalau dibuat antologi sudah puluhan.
Hitunganku. Semuanya aku tulis, atas dasar ketidakpahaman jiwaku. Meski aku katakan,
tidak, tapi aku tak kuasa. Aku tak mengerti, mengapa semua cita harus berujung pada
pengorbanan. Kalau aku berpikir lebih jauh, itulah alasanku bertahan.

Aku tahu kita berbeda Sofia. Aku orang kebanyakan. Sedang kamu? Apapun mampu kau
beli. Diriku pun kalau kau mau? Tapi, sesiapapun tahu bahwa perasaan tidak mengenal
itu. Aku tulus, Sofia.

***

15 Agustus 2005

Aku di sini sedang mengalami musim liburan. Aku berencana untuk pulang. Tunggu aku
ya. Oh… ya! Aku ingin memperkenalkan kamu dengan seseorang. Aku kangen pada situasi
di sana. Aku ingin membawanya berkeliling di daerah kita. Aku dan dia sekarang
sedang menikmati musim semi. Aku ingin memperpanjang musim semi ini di sana.

***

17 Agustus 2005

Aku tidak merasa merdeka. Aku tidak memiliki kebebasan untuk menautkan hati. Lalu
kutuliskan balasan suratnya;

Benarkah Sofia?, aku akan menunggumu. Ini kegembiraanku yang menyeluruh. Cepatlah
kembali Sofia…………

Yang menyetiaimu,

Aku pura-pura turut berbahagia. Melalui suratmu yang kubaca berkali-kali itu, aku
sebenarnya menagis. Tapi aku bisa apa. Asalkan aku bisa melihat kamu tersenyuma aku
rela melakukan apa saja. Sekali pun mengorbankan perasaanku. Bahkan kalau kamu
menginginkan nyawaku maka aku akan menyerahkannya.

***

Lima hari aku menunggu kepulanganmu. Selama itu pula aku sibuk memintal kata menjadi
rajutan puisi yang akan aku berikan setibanya kau dihadapanku. Aku menyibukkan diri
memilah kata mana yang pas untuk seorang kamu. Sofia.

Dalam waktu itu, aku terdiam. Melamun. Aku terkenang masa-masa itu lagi. Di SMA. Aku
mengulang kaset kenangan yang isinya tentang semua tingkahmu. Apa-apamu. Aku mencoba
mengingat akan dirimu, khususnya wajahmu. Aku paling suka dagumu, terbelah dua.
Seperti laba-laba kembar menggantung. Belum lagi alismu, yang seperti semut
berjejer. Kamu begitu indah.

Sebagai peteater, aku juga memiliki paras yang bisa dikatakan… boleh juga. Namun aku
tidak terpengaruh akan kenyataan itu, karena kamu sering bilang wajahku jelek. Tapi
kalau jelek, kenapa kamu mau berteman sama aku? Kamu diam, jika aku balik menohok
macam itu. Kamu kehilangan kata-kata dan segera saja kamu alihkan dengan tawaran.
Sebuah senyuman.

***

“Apa kabar kamu?,” sapamu setelah sekian lama tidak bertemu.

“Seperti yang kamu lihat!,” jawabku sambil mengamati penampilanmu yang jauh berbeda.
Dandananmu sudah berubah. Kamu sudah gunakan pewarna bibir. Pun pakaian yang kau
pakai semakin minim, apalagi rok mini dan stelan tanktop yang membaluti tubuhmu
membuatku pangling.

“Oh… ini Dirga. Seorang yang mau kuperkenalkan denganmu lewat suratku tempo lalu?,”
sambungmu sambil merengkuh tangan lelaki yang sejak tadi berdiri di sampingmu.

Aku sesenggukan saja menyalami lelaki yang kau sebut Dirga itu. Aku merasa asing
dengan kehadiranmu. Aku tidak kenal dirimu lagi, Sofia. Tidak hanya penampilan
tetapi sifatmu. Kamu tidak semanis dulu.

“Sofia…, ini untukmu!,” kuserahkan puisi-puisi yang kubuat sebelum kepulanganmu.

“Terima kasih, sudah dulu ya…, aku mau menemani Dirga jalan-jalan!” Lalu kamu
menggandeng lelaki itu menjauh dari hadapanku. Sekali lagi, aku bisa apa?

Aku hanya bisa menelan air liur. Pahit.

***

Seminggu kemudian engkau datang ke rumahku. Kali ini tidak bersama lelaki itu. Kamu
sendirian.

“Ada apa Sofia?,” tanyaku karena kulihat air mukanya memancarkan kegelisahan.

“Aku pamit. Hari ini seluruh keluargaku akan ikut aku menetap di jawa!” Setelah itu
kamu menyalami tanganku. Aku merasakan hangat. Menyeruakkan seluruh samudera biruku.
Aku tak ingin berpisah denganmu, Sofia. Aku tak mampu mengucap apa-apa. Karena
airmataku yang menetes cukup mewakili kata apa yang mesti terucap. Aku remuk
mendengarnya. Seandainya aku burung, maka sayapku ini patah karena angin berita itu.
Pun ketika aku hendak memelukmu, kamu menghindarinya. Malah kamu pergi
meninggalkanku dalam tangisan.

***

24 Juli 2006

Seperti kemarin aku tetap membuat puisi untukmu, Sofia. Aku tuliskan kata-kata
diselembar kertas berwarna kelabu. Aku luapkan segala rasaku yang tak pernah sampai.
Sebab aku bisa apa.

Sofia terukir diprasastiku

setiap penghujung malamku

yang juga sempat menghantui jati diriku kemarin

sore

pun aku mengeluh padamu;

temani aku mengukur jalan-jalan yang akan kulalui

esok hari

tapi kau tak pernah menjawab, membuat aku

semakin khawatir akan kebungkaman yang kau miliki

Sofia terukir diprasastiku

pada hatiku yang mulai merekah

sementara, jam berdetak cepat di belenggu

jiwaku yang lain

lalu disetiap detiknya, aku hanya mencoba berbagi

rasa untuk bisa mentasbihi namamu; Sofia!

karena itulah kerjaku adanya

Sofia terukir diprasastiku

membukakan beberapa ayatku yang ditulis

matahariku

karena aku hidup bukan untuk aku tetapi

demi dini-petangmu di kancah mendatang

Sofia terukir diprasastiku

pernah menghadang sudut kegelisahanku

yang kemudian menuaikan aroma kharismatik buluh airmata

bunga dipersinggahan waktu

Duh, Sofiaku yang kian hari kian dekat,

sedekat pemisah antara jasad dan ruhnya

peletak degub jembatan kenanganku

di perkosaan zaman

Sofia terukir diprasastiku

dengan pena asmara ini aku tuliskan dalam

kalimat-kalimat penabuh dendang

irama dewa

bahwa syair penyejuk kembaraku telah menembus

tulang-darah serta segala apa yang ku miliki

untuk memahamimu yang kini

terukir diparastiku; SOFIAKU !

Tapi baik puisi ataupun surat yang kutulis tidak lagi pernah kukirim kepadamu.
Alamatmu sekarang aku tidak tahu dan kamu tidak pula memberitahunya. Semua surat
yang pernah aku kirimkan ke alamatmu dulu, dikembalikan tukang post.

Aku tidak tahu lagi bagaimana kamu sekarang. Ada dua arti yang aku simpulkan dari
salam perpisahan setahun lalu. Sampai jumpa atau selamat tinggal.

Tanpa sadar aku menangis, mengingat semuanya. Aku bisa dikatakan lelaki cengeng,
tapi apalah aku. Inilah adanya.

“Dicari kemana-mana ternyata Piannya di sini? Itu nah Sofia menangis, ulun mau ke
pasar dulu menjual sayur!”

“Iya…,” jawabku memelas sambil menghapus airmataku. Sedang puisi yang baru saja
kutulis itu aku sobek. Seperti perasaanku. Lalu kukunci kamar itu dan pergi
menghampiri putriku yang sedang terlelap.

Lekat-lekat aku memandangnya. Baru dua minggu ia menjalani usianya. Aku tercenung,
perasaanku mestinya lebih besar tercurah padanya. Pelan-pelan aku belai kepalanya.
Kucium dahinya. “Sofia sayang, jangan tinggalkan bapak ya nak?” . Lalu kucium lagi
dahinya…***

Inspired by someone Sofyandi Sedar

Guntung Payung, 30 Agustus 2005 05:40 PM


6 Responses to “Sebuah Cerpen dari Sahabat”


  1. November 14, 2008 pukul 2:34 pm

    hehe… cinta melintas masa nih..😀

    IMO, this short story’s score is 7/10. Tata bahasanya agak-agak perlu dibenahi. Tapi idenya COOL!!

  2. 4 yandhie
    November 15, 2008 pukul 10:52 am

    @ Hadi: Seorang sahabat dari masa lalu… Hubungannya cukup rumit antara kami berdua..

    @ Army: Sengaja tidak saya perbaiki tata bahasanya. Saya ingin ketika dia membaca ini tetap merasa sebagai cerpen yg sama yg dia kirim ke saya.

  3. November 16, 2008 pukul 6:15 pm

    sengaja di buat kaku agar suasana dulunya bisa dirasakan bukan?

  4. 6 yandhie
    Desember 3, 2008 pukul 4:47 pm

    @ Hudan: jadi malu😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Human Calender

My beloved reader

  • 122,601 orang

Survei Mahasiswa

Tok…Tok… Anybody Home?

A little bit about my personality

Click to view my Personality Profile page

Our visitors


%d blogger menyukai ini: