21
Nov
08

Nikah Tanpa Pacaran

Dapat dari suatu milis di luar kampus

Pernah membayangkan, ketika suatu saat nanti, kita menikahi orang yang belum kita kenal, bahkan sangat asing? Dalam beberapa kasus, saya menemukan kedua mempelai baru bertemu ketika akad nikah.

pacaran islami?

Entah kenapa, Nikah tanpa Pacaran, menjadi sesuatu yang asing bagi kita saat ini. Padahal, kalau kita mau mengakui, jujur dan belajar dari sejarah, pacaran merupakan “produk” abad terakhir. Sebelumnya, pernikahan terlaksana melalui proses perjodohan, atau kalaupun tidak, ketika seorang lelaki menyukai seorang perempuan, dia langsung datang ke rumah perempuan itu untuk meminang. Wow, Gentleman, EUY! Dan proses pernikahan pun, tidak ribet, tidak berbelit-belit. Kalaupun ada proses pengenalan, tidak berlangsung terlalu lama biasanya.

Berbeda sekali dengan kebanyakan orang-orang saat ini.
“Kalau belum kenal kan, ngeri juga…”
“Emang kita hidup di zaman Firaun, pake nikah dijodoh-jodohin segala…”
“Udah nggak zaman lagi deh, nikah pake dijodohin…”
“Pacaran itu kan proses, supaya kita saling mengenal, supaya nggak nyesel dan salah pilih…”
Ya, kira-kira seperti itu lah beberapa argumen yang sempat masuk ke telinga saya, termasuk saya juga pernah berpikiran seperti itu.

Ada satu pertanyaan, mana yang lebih banyak, kasus perceraian saat ini, atau di zaman kakek dan nenek kita dahulu? Saya yakin, jawabannya pasti lebih banyak saat ini. Padahal, zaman kakek-nenek kita itu masih zamannya perjodohan. Jadi, apakah pacaran menjamin kelanggengan hubungan suami-istri? Tidak Juga!

Seorang ustadz pernah bercerita, temannya berpacaran 7 tahun sebelum menikah. Tapi, kemudian bercerai 3 bulan setelah menikah…alasannya, karena istrinya tidak bisa tidur kalau tidak ditemani kucing dan lampu yang mati, sementara dia alergi kucing dan tidak bisa tidur kalau lampu terang. Kemudian, saya juga ingat bahwa ternyata pasangan suami-istri yang terlalu lama berpacaran sebelum menikah, lebih mudah merasakan kebosanan dalam hubungan rumah tangganya. Ini merupakan fakta yang pernah saya dengar dari paman seorang teman yang psikolog.

Berapapun lama pacaran, tidak menjamin kita untuk bisa lebih mengetahui segala hal tentang pasangan kita. Ketika memasuki gerbang rumah tangga, segalanya akan jauh berbeda dengan sebelum menikah. Ada detil-detil pasangan kita yang selama berpacaran “tersembunyi” atau “disembunyikan” yang kemudian muncul. Dalam banyak hal. Faktanya, dalam pacaran memang banyak hal yang sering ditutupi terhadap pasangannya. Meskipun tidak semua orang seperti itu.

Pada dasarnya, perasaan cinta, bisa ditumbuhkan. Terhadap siapapun. Bahkan orang yang menurut kita tidak menarik sama sekali. Tidak percaya? Saya pernah mengalaminya, meskipun kemudian pikiran tersebut saya buang jauh-jauh. Toh, kita pun sering menemukan kasus cinta pada pandangan pertama. Ego kita saja yang kemudian mengalahkan perasaan cinta tersebut. Karena, menurut kita, kurang cantik, kurang cerdas…dan kurang-kurang yang lainnya.

Pada kasus saya, saya awalnya mencoba untuk mempraktikan tips dari seorang ustadz agar kita bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap seseorang. Katanya,”Pikirkan saja nama seseorang, setiap hari…meskipun awalnya tidak ada perasaan suka, lama-lama perasaan tersebut akan muncul juga”…lebih kurang redaksinya seperti itu. Saya pun, entah kenapa, penasaran dan saya coba juga. Awalnya, memang tidak ada perasaan apa-apa. Interaksi yang sering dan melihat hal-hal positif dari orang itu yang kemudian “memunculkan” rasa itu. Sampai kemudian, saya pun menyadari, bahwa ternyata, perasaan cinta, simpati atau empati memang bisa ditumbuhkan. Tergantung bagaimana kita mengolahnya dan kemauan kita untuk membuka hati kita. Itu saja sebetulnya. Hal lain adalah kesadaran bahwa setiap orang memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Orang lain pun ingin diperlakukan sebagaimana kita diperlakukan. Meskipun, pada kasus Lelaki dan Perempuan, berbeda cara perlakuan.
Kalau sudah begitu, saya kira, kita akan mudah untuk “jatuh cinta” kepada siapa pun.

Saya sering ngobrol dengan teman-teman yang menikah tanpa pacaran, bahkan dengan orang yang belum mereka kenal sebelumnya. Saya meminta mereka untuk bercerita tentang kesan-kesan pernikahan mereka. Ternyata, banyak hal menarik yang mereka ceritakan. Terutama, di malam pertama mereka. Heu heu heu…Kata mereka, “justru seninya adalah ketika kita berusaha untuk saling mengenal, meraba-raba perasaan pasangan kita, bagaimana kalau dia sedih, marah, senang, apa yang menyebabkan dia marah, sedih atau senang, ketika petama kali berpegangan tangan, ketika pertama kali mencium, atau pada saat sama-sama merasa malu ketika berduaan di dalam kamar, suasana hening yang tercipta karena sama-sama bingung memulai pembicaraan, sementara di kepala kita ada berjuta pertanyaan tentang pasangan kita, perasaan berdebar-debar, yang mungkin tidak dirasakan lagi oleh orang yang berpacaran, itu adalah perasaan yang sangat luar biasa bagi orang-orang yang belum pernah merasakan
semua itu”. Dan mereka melakukan itu pun, halal, tidak ada dosa. Perselisihan, pasti ada, bahkan bagi mereka yang berpacaran sekalipun. Tapi, semuanya bisa diatasi dengan saling pengertian.

Saya pun sering meminta mereka untuk berbicara tentang pasangan mereka, ada yang mengatakan, “istri saya sangat luar biasa, dia sangat sholeh..”, “istri saya sangat pengertian…”, “istri saya memang tidak cantik, tapi kebaikannya yang membuat saya semakin sayang…”…dan lain-lain.

Pada akhirnya, saya memang tidak setuju dengan dalih-dalih…
“Ini kan zaman modern, beda dengan zaman para nabi…”
“Masa di zaman seperti ini, masih ada juga yang dijodohin…”

Sebab…pada dasarnya, potensi manusia itu sama, sejak Nabi Adam diturunkan sampai nanti Kiamat pun, perangkatnya sama saja…dan kebutuhan kita pun sama saja…Ketenangan, Kebahagiaan, rasa Aman, Cinta, Kasih Sayang, Damai, Rasa Hormat…kalau kemudian kita hidup di zaman sekarang ini, tidak berarti bahwa kemudian kebutuhan kita berbeda dengan orang-orang di zaman para Nabi. Materi-materi dan kemajuan peradaban, hanya merupakan fasilitas saja, yang pada akhirnya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tadi.

Fenomena Nikah Tanpa Pacaran, memang masih bertahan di komunitas-komunitas Islam…PKS, HTI, LDK…atau di daerah-daerah. Tapi, tidak berarti bahwa Fenomena tersebut masuk kategori “Kampungan” atau “Primitif”. Menurut saya, malah Fenomena itu yang lebih “Modern”. Apalagi, belakangan, saya memang agak “muak” dengan hal-hal yang berbau pacaran dan cinta picisan yang menjadi kebanggaan di zaman sekarang ini. Kadang-kadang, cuma jadi bahan tertawaan saya. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa aktivitas tersebut lebih banyak kesia-siaannya. Meskipun saya memang belum pernah berpacaran. Tapi, saya kira, saya tidak perlu pacaran untuk mengetahui sia-sia atau tidak, bukan begitu? Sama halnya seperti kita tidak perlu nyebur kalau cuma ingin tahu sungai itu dalam atau tidak, suruh aja orang lain, atau lihat orang lain yang udah nyebur.

Jadi, Nikah Tanpa Pacaran?? GAK TAKUT!!


17 Responses to “Nikah Tanpa Pacaran”


  1. November 21, 2008 pukul 5:28 pm

    setutju mas…
    pacaran mah lebih banyak ga enaknya
    pulsa abis..zinah hati…hidup ga tenang de el el

    yoo… pacaran no..nikah yes!!!

  2. 2 miftahul hidayah
    November 21, 2008 pukul 5:32 pm

    Beuh..bahasannya. Ga nyangka yandi bisa nulis gini.

    Serius itu bisa segampang itu numbuhin perasaan suka? Ckckck..kok bisa? Jadi pengen tau penjelasan ilmiahnya.

    Kalo menimbulkan perasaan suka bisa segampang itu,berarti menghilangkannya juga gampang dong yan..

  3. 3 meah
    November 23, 2008 pukul 12:08 am

    hmmm….. pacarannya abis nikah yak?😀

  4. 4 yandhie
    November 23, 2008 pukul 7:05 am

    @ Miftah: Gue dapat dari milis FIM, jadi bukan tulisan saya sendiri. Menurut saya pribadi perasaan cinta itu berasal dari sugesti dari dlam. Karena sering ketemu, karena sering dengar nama “dia”, karena melihat fotonya di majalah, atau karena pernah mendapat perlakuan baik dari orang tersebut.

    Cinta itu pernah saya baca di buku “virus akal budi” karya richard brodie, adalah pengaruh dari sugesti dan faktor eksternal. Kalo kita berulang-ulang kali di tekan pada tombol yang tepat oleh meme yang tepat (seperti kasih sayang dan perhatian), lama kelamaan akan luluh juga. Dan sang cupid dapat menancapkan panah di hati yang berwarna merah muda.

    Tapi tetap saja, cinta itu proses……. Bukan kegiatan Sangkuriang yang dapat terjadi dalam semalam.

    Menghilangkannya gampang? ya mungkin juga kali ya bila menilik pengalaman pribadi saya… Karena cinta sejati itu hanya milik Allah, dan cinta mahluk adalah perasaan yang fana. Makanya perasaan cinta itu dapat lenyap. Mungkin bukan dengan gampang, melainkan dapat hilang begitu saja karena waktu.

    @ Meah: Setuju, pacarannya abis nikah aja… Lebih tenang dan ga takut zina.

  5. 5 Kasyfi
    November 25, 2008 pukul 11:28 pm

    mau mereview statementmu,,,

    jadi kau akan pacaran hanya setelah nikah?

  6. 8 yandhie
    Desember 3, 2008 pukul 3:31 pm

    @ Kasfy: Hehehe… Gue juga belum tau apakah gue bakal mampu. Tapi kalo udah punya kesiapan hati dan modal uang (serta calonnya tentunya) ngapain pacaran lama2? Ngapain hidup dalam lingkupan dosa?

    Yang penting segera sempurnakan sepertiga agama…
    Btw target meriedmu kapan kas?

  7. Desember 4, 2008 pukul 10:31 am

    apa sih gunanya pacaran coba…??

    pacaran itu cuman status yg gak jelas……

    kalo emang pengen kenal lebih deket,, apa harus pacaran…????

    quote : “Yang penting segera sempurnakan sepertiga agama…”

    bener tuh sepertiga agama..?? bukan separuh..??

  8. 10 yandhie
    Desember 4, 2008 pukul 12:49 pm

    @ Dindin: Sebenarnya tadi magrib gue berdebat ama kasyfi mengenai bentuk taaruf dan pacaran. Dari perdebatan tadi kami masuk ke kesimpulan aneh yang menyatakan bahwa pacaran adalah bentuk taaruf (kas, tolong koreksi kalo gue salah).

    Namun, sebenranya gue ngerasa kalo pacaran itu cuma bentuk rasa tidak bertanggung jawab tapi pengen dekat ama cewek. Hmmm, tapi kalo ga ada bentuk lain (atau istilah kerennya, role model), maka pacaran bisakah jadi pembenaran?

    Bagaimana? ada yang bisa jawab?

  9. Desember 6, 2008 pukul 6:20 pm

    salut! yandi posting beginian😀 hmmm,,, ta’aruf itu bukan pacaran. sama sekali beda. klo dilihat segi bahasa yg sekarang ini lazim dipakai, pacaran itu ga sekadar ingin mengenal utk menuju jenjang yg lebih serius a.k.a. menikah. pacaran justru jadi media buat mendekati zina, karena toh jd ada label dia itu bakal jd milik saya. ah,,, nikah jg blm tentu kan? yg lg ta’aruf jg blm tentu nyampe ke pernikahan… makanya utk menjaga masing2 orang baik kaum adam maupun hawa, sebaiknya engga pacaran.

    jd inget diskusi (ampun deh! :p) sama beberapa temen dl. perempuan itu kelak akan lebih mudah membanding2kan orang dengan org yg pernah jadi idola sblumnya. ahhh, da klo sy mah ya, pengennya ntar selain Rasulullah, ya cuma suami sy yg jd idola. hehehe… coba klo udah pernah pacaran, kata temen2 waktu itu, posibilitinya besar buat si istri ngebandingin sm mantannya, meski ga ngomong sm suami krn takut cemburu jg, itu udah jd hubungan yg ga sehat dlm berumah tangga.

    trus, ini masih ceunah ya… (secara gw blm nikah gitu! hahahaha!) klo si suami pernah pacaran, betapa sedih si istri tau bahwa dirinya bukan org yg satu2nya perempuan pernah singgah di hati suaminya (selain ibu si suami ya…) simpelnya, perempuan, mostly (inget, MOSTLY) ingin menjadi istri yg paling dihargai dan jd kesayangan suaminya.

    ya intinya mah ya… supaya saling terjaga aja. mendekati zina aja ga boleh kan? apalagi ngelakuinnya… na’udzubillahimindzalik…!

    trus, gimana dong biar dapet istri/suami yg saleh? udah dijanjiin, jodoh ga akan lari kemana, jodoh udah ditetapin sm Allah, pasti ada waktunya ntar, (mmm, apalagi ya???) jodoh itu yg sekufu (sebanding), ya intinya mah… Klo kitanya berusaha jd org saleh, ntar jg si jodoh tea lg disiapin sm Allah spy jd orang saleh.. percaya sama Allah aja lah… mang mu percaya sama sapa lagi selain Allah? hehehehe…

    sorry yandhi!!!! gw komen apa posting ini yak???? hehehehehehehehehehheee…. gpp lah… eksis! hahahaha!

    yak! lulus SPN nih, tanpa ambil sks SPN! ahahahahahhahaaa!!!

    • 12 yandhie
      Desember 7, 2008 pukul 5:53 am

      @ Dian: Salut juga buat dian yg ngasih komen keren ini. Sependapat dengan kamu tentang seharusnya yang menjadi pengisi singgasana hati dan satu-satunya lawan jenis yang pernah singgah sebagai calon pendamping hidup mestinya cuma satu orang saja. Tapi itu idealnya…

      Tapi dalam kenyataanya, bentuk pacaran adalah role model yang banyak dilihat oleh orang kebanyakan. Mencari kesenangan hidup tanpa mesti terikat dan memegang tanggung jawab (untuk menikah). Mestinya role model untuk bentuk taaruf juga lebih banyak juga. Disinilah media menjadi pemicu sehingga kita tidak melihat bentuk lain dari hubungan lawan jenis selain pacaran. Hadoh, jadi bingung nulis apa sih sebenarnya….

      Selamat buat kelulusan SPN nya, moga bisa ambil sks SPN juga😉

      (buat yang ga tahu, SPN = Sekolah Pra Nikah yang diadakan YPM salman)

  10. Desember 8, 2008 pukul 10:29 pm

    yan, i’ll keep your words, jangan muna yah hahaha…

    hmm… gw setuju sama ‘nikah tanpa pacaran’. ini adalah sesuatu yang sangat indah menurut gw. gw salut banget sama orang2 yang melakukannya. tapi gw juga setuju-setuju aja sama ‘pacaran’ (asal masih dalam batas kewajaran lho). hahaha kesannya gw ga berpendirian gini.

    mau mengkritik beberapa kalimat terakhir: “Pada akhirnya, saya menyadari bahwa aktivitas tersebut lebih banyak kesia-siaannya. Meskipun saya memang belum pernah berpacaran. Tapi, saya kira, saya tidak perlu pacaran untuk mengetahui sia-sia atau tidak, bukan begitu? Sama halnya seperti kita tidak perlu nyebur kalau cuma ingin tahu sungai itu dalam atau tidak, suruh aja orang lain, atau lihat orang lain yang udah nyebur.”

    huh, it doesn’t make sense at all to me. mana bisa kita merasakan efek suatu hal kalau belum pernah mengalaminya, cuma melihatnya atau bertanya ke orang yang sudah mengalami? kalau sudah mengalami pun, efeknya akan berbeda-beda buat setiap orang.

  11. 14 yandhie
    Desember 9, 2008 pukul 3:27 am

    @ Adis: Seperti gue bilang. Gue dapat ini dari suatu milis… Tapi pernyataan dalam tulisan ini sedikit banyak cukup mewakili apa yang ada di dalam benak gue selama ini.

  12. 15 alica
    Desember 12, 2008 pukul 12:28 pm

    mantabz tuwww….

    pacaran setelah nikah emang lebih berkesan kayanya yaa..

    (aq juga pernah nanya ke guru yg seperti itu)

    hohohoho..

    kaka berniat dengan hal ini??

  13. Maret 27, 2009 pukul 7:35 am

    wah……….
    pengen sih sebenere langsung nikah…
    tapi si dianya blum mau…
    rasa sayang memang sudah tumbuh diantara kita..
    tapi keyakinan, ketenangan setelah nikah masih menjadi tanda tanya besar bagi kami..
    serta yang paling buat kami sungkan adalah ketika bilang sama orang tua…
    kalo orang tua masih nuntut untuk kuliah..
    aku gak bisa bantah..
    tapi perasaan pengen nikah bener-bener tumbuh sejak aku ta’aruf dengan dia selama 2 bulan. sekarang sudah mnginjak bulan k 9.. tapi apakah sabar dengan pikiran yang nglantur..?????
    poko’e nikah itu enak mskipun lum pernah nikah..
    krna rejeki ditangan Allah…
    aku gak pernah kuatir dg biaya hidp setelah nikah…
    kapan ya ku nikah….

  14. 17 arum
    November 26, 2009 pukul 2:17 am

    Asyikkk juga.. ide bagus, nikah tanpa pacaran… Pingin coba, tapi.. ama siapa ya?
    Ada ngk yang mau ta’aruf dengan saya tanpa pacaran?? langsung nikah aja..

    Yukk mariieee… ini tawaran serius lho… kl ada, email saya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Human Calender

My beloved reader

  • 122,601 orang

Survei Mahasiswa

Tok…Tok… Anybody Home?

A little bit about my personality

Click to view my Personality Profile page

Our visitors


%d blogger menyukai ini: