07
Des
08

Suatu hari di Aula Barat

Aula Barat, 3 Desember 2008

Mengunjungi pameran game dan animasi tadi membuatku melihat sesuatu yang menarik…

Apakah gerangan? Wow, ternyata terdapat sesuatu teknologi baru yang menarik dari Jurusan Magisternya STEI (Grup riset ‘Digital Media and Game Centre’). Ditengah-tengah pertunjukkan game online dan pameran gambar serta animasi yang biasa itu ternyata tetangganya FT ini menunjukkan sesuatu yang menarik: Augmented Reality dan Multi Touch Screen

augmented reality

Augmented Reality (AR)

Pada dasarnya konsepnya sederhana, masukkan gambar dari kamera, lalu gambar tersebut tambahkan dengan objek lain dari komputer. Terus tampilkan di layar, maka pada layar tersebut seakan-akan ada objek lain (realitas tambahan) pada monitor. Kedengarannya gampang ya? Tapi itu bertambah rumit dikarenakan objek di dalam monitor itu bisa berinteraksi dengan lingkungan di dunia nyata!

Keren banget kan?

Hal ini disebabkan pada alas atau tempat objek virtual tersebut “diletakkan” terdapat sebuah marker yang dapat dideteksi oleh kamera infra merah.  Sehingga objek di dunia virtual tersebut dapat bergerak dan digerakkan oleh marker di dunia nyata. Ajip,  Keren bet….

Yang ditunjukkan di pameran tersebut antara lain AR Volcano Ensiklopedia, ARAD, dan AR yang menunjukkan bentuk molekul suatu benda. AR volcano berbentuk buku yang menunjukkan persebaran gunung berapi di Indonesia. Salah satu contoh yang ditunjukkan adalah gunung Merapi di Jawa Tengah. Dengan meletakkan tangan di salah satu marker di buku tersebut maka dapat memperlihatkan daerah yang rawan volcano. Sedangkan ARAD  adalah sebuah meja yang menunjukkan peta sebuah perumahan. Dengan memindahkan marker di atas meja tersebut maka dapat memindahkan rumah yang ada didalam layar monitor. Jadi alat ini sangat praktis untuk seorang arsitek atau perencana perumahan karena menawarkan kebebasan untuk berkreasi dengan tata ruang daerah yang sedang dibangun.

Sayangnya pada saat pameran tersebut gue lupa membawa kamera kesayangan. Alhasil sebagai ilustrasi pake video dari youtube aja ya:

augmented reality dari youtube

Multi Touch Screen

Sedangkan multi touch screen adalah sebuah perangkat dimana kondisi dunia nyata dapat mengendalikan layar (screen) di komputer tanpa benar-benar menyentuh keyboard atau mouse pada komputer tersebut. Pada contoh yang diperagakan kepada saya dengan menggunakan dua jari akan menyebabkan layar menzoom dengan lambat, tiga jari akan menzoom dengan lebih cepat and so on.

Orang yang memeragakan memakai sarung tangan yang dapat meningkatkan sensitifitas kamera inframerah. Dengan menggunakan kamera tersebut multi touch yang menunjukkan seekor kucing dapat menggerakkan kucing tersebut, zoom-in, zoom-out, TANPA MENYENTUH LAYARNYA SAMA SEKALI!

Luar biasa…

Bagaimana prinsip kerjanya? Sebenarnya terdapat tiga elemen penting yang gue lihat pada alat ini: Layar (dari acrylic), proyektor (seperti yang terdapat di ruang-ruang kuliah), dan kamera infra merah. Kamera infra merah dapat menangkap pergerakkan tangan dan menyalurkannya pada gambar di proyektor. Yang ditangkap oleh kamera adalah pancaran panas dan gerakan pada tangan. Disinilah sarung tangan memegang peranan penting. Sarung tangan tersebut berisi baterai dan pemancar yang memperkuat pancaranpanas dari tangan, sehingga menambah sensitifitas gesture pada layar.

Sebagai ilustrasi saya tunjukkan ‘microsoft surface’ dari youtube, yang merupakan jualannya microsoft:

Microsoft Surface

Mengunjungi pameran pada hari ini membuat saya bangga sebagai seorang anak bangsa. Ternyata anak bangsa ini mampu untuk membuat teknologi yang maju dengan modal yang kecil dan irit. Bangsa ini tidak kalah dengan negeri-negeri lain yang lebih maju dan dengan dana riset yang tidak habis tujuh turunan. Tapi saya lebih bangga lagi ketika saya bertanya kepada orang yang merancang multi touch screen.

Saya: Jurusannya (S1) dulu apa mas?

Orang tersebut: Fisika ITB. (primordial abis sebagai anak ITB hehehe)

btw, kalo kamu punya Nintendo Wii di rumah sebenarnya bisa membuat multi touch screen sendiri. Caranya dengan memanfaatkan kontroler alias wiimote pada nintendo wii dan meletakkannya pada serangkaiaan LED Photodetektor.

Untuk lebih jelas bisa dilihat pada video berikut:

Membuatku bertanya-tanya, kapan FT (dibawah grup optik tentunya) bisa membuat yang seperti ini y?


1 Response to “Suatu hari di Aula Barat”


  1. 1 Chand
    Desember 12, 2008 pukul 1:50 pm

    cool technology!!😀
    some of theme i ever heard but not really face it.
    this articel tells me a lot and yet it make me feel so disappointed to know that i wasn’t there to face it by myself! >.<
    will there the 2nd exhibition?

    REALLY PROUD OF YOU MY INDONESIA!!!
    GO SHINING MY INDONESIA!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Human Calender

My beloved reader

  • 122,601 orang

Survei Mahasiswa

Tok…Tok… Anybody Home?

A little bit about my personality

Click to view my Personality Profile page

Our visitors


%d blogger menyukai ini: