13
Des
08

Resensi Buku: Imperium

Bandung, 14 Desember

Imperium

Akhir-akhir ini saya tertarik membaca cerita berlatar belakang tentang sejarah atau biografi orang-orang besar  yang pernah hidup. Terutama tentang sejarah Romawi kuno. Tidak heran apabila saya pernah membahas tentang novel Roma di blog ini. Disamping membaca Roma, saya  juga membaca Dyah Pitaloka, Gajah Mada, dan Bumi Manusia. Sebenarnya saya juga ingin membaca Babad Tanah Jawi, tapi masih belum punya waktu luang untuk melakukannya.

Mengenai Imperium, ini adalah novel yang membuat saya penasaran semenjak saya melihat judulnya di pameran Gramedia di Campus Center ITB dua bulan yang lalu. Tidak lama berselang, saya pergi ke festival film CCF dan melihat poster tentang bedah buku ini dan langsung terbersit dalam otak impulsif saya “Aku mesti baca buku ini!”

Beruntung saya mempunyai teman-teman baik yang juga mencintai buku seperti saya. Salah satunya adalah Radix Hidayat. Sekalipun sering diolok-olok sebagai orang dewasa dengan jiwa anak kecil tetapi dia memiliki selera yang bagus terhadap barang. Itu adalah satu hal yang saya suka dari dia. Alhasil, saya meminjam buku dari Radix. Bukan dengan cara yang gampang karena dia pelupa dan perlu diteror tiap hari. Untunglah saya adalah teroris yang cakap. Nyaris Tiap hari saya mengirim SMS, IM, dan pesan di wall facebook dengan satu kata singkat “IMPERIUM”. Dan berhasil, buku itu sekarang berada di tangan saya. Ini adalah kiatnya bila anda hendak membaca buku bagus dengan cara murah: jadilah peneror yang baik.😀

Akhirnya saya mendapatkan novel ini juga. Dan kemarin saya berhasil menamatkannya di tengah-tengah kesibukan dan kehidupan mahasiswa yang supeeeeeeeerrrrr sibuk  itu. Tampaknya dugaan saya tepat. Akan lebih baik apabila membaca Roma terlebih dahulu, bisa saling melengkapi dalam membentuk pemahaman anda akan sejarah Romawi kuno.

Bagaimana pendapat saya tentang novel ini? Bisa saya katakan ini adalah novel keren tentang kehidupan salah satu orator terbaik yang pernah dilahirkan di muka bumi. Bahasanya simpel sekaligus cerdas. Episode kehidupan Cicero dihadirkan oleh Robert Harris dengan menggunakan sudut pandang orang terdekatnya yaitu Tiro, sekretaris pribadi Cicero.

Cerita bermula ketika Gubernur Sisilia bernama Gaius Verres yang korup dituntut oleh warga negaranya. Sekilas terkesan gampang sekali bila melihat sudut pandang orang biasa, tetapi tidak. Verres sudah “memiliki” sebagian besar hamba hukum yang ada di bawahnya. Dia diwakili oleh pengacara terbaik Roma pada saat itu, Hortensius. Cicero dan Hortensius bisa dikatakan sebagai musuh bebuyutan. Cicero adalah pengacara yang baik. Sayangnya dia hanya dianggap pengacara terbaik kedua bila dibandingkan dengan Hortensius.

Dengan caranya yang khas, Hortensius mengulur-ngulur waktu untuk menghancurkan setiap usaha Cicero menuntut Verres. Hingga akhirnya hanya tersisa 10 hari saja untuk memperkarakan Verres di pengadilan pemerasan Roma. Tetapi dengan kelincahannya bermain kata, kecerdasannya menyutradarai pengadilan, serta dukungan dari orang-orang dekatnya akhirnya Cicero berhasil mengalahkan Hortensius.

Kemenangan Cicero ini membuka matanya untuk bermimpi menjadi Konsul Roma. Suatu hal yang cukup mustahil pada saat itu. Mengapa begitu? Karena jabatan konsul adalah jabatan yang cukup mahal dan umumnya hanya dipegang oleh orang-orang besar yang  memilki darah aristokrat saja di tubuhnya. Cicero hanyalah seorang “orang baru” bila dibandingkan dengan lawan-lawannya yang keturunan bangsawan murni.

Lho, mengapa hal itu penting? Mungkin anda berpikiran seperti itu. Tetapi Republik Romawi kuno yang ada pada jaman tersebut (106-43 SM, umur Cicero) bukanlah sistem demokrasi yang sempurna seperti Indonesia atau AS. Sebagai republik pertama di dunia, Republik Roma menerapkan konsep kebangsawanan dijunjung tinggi diatas rakyat. Alhasil, terlahirlah konsep Konsul, Senat, Ditaktor, dan Praetor. Konsul adalah pemegang kekuasaan eksekutif mirip seperti presiden di jaman sekarang. Bedanya Konsul dipegang oleh dua orang sekaligus berdasarkan prinsip bahwa kekuasaan harus dibagi karena kekuasaan tunggal berbahaya bagi republik. Sedangkan Senat memiliki kemiripan seperti anggota MPR-DPR yang ada di Indonesia. Ditaktor adalah pemegang kekuasaan ketika republik mengalami krisis. Praetor adalah pemegang pengadilan,mirip seperti mahkamah hukum yang ada di saat sekarang. Kesemua jabatan ini lebih diprioritaskan bagi pemilik darah biru dan pemilik modal yang besar. Dan Cicero bisa dianggap sebagai “anak dusun” yang baru datang ke ibu kota. Kebayangkan kesulitan Cicero menjadi konsul di Roma?

Satu hal yang saya salut terhadap Cicero adalah sikapnya yang berpihak pada rakyat. Sikap ini cukup ambigu dengan ambisinya menjadi konsul. Ambisius dan kerakyatan, cukup kontroversial kan. “Kita harus menghargai pemilih kita, rakyat jelata” begitulah kata-kata Cicero untuk menggambarkan sikapnya tersebut. Kacang yang tidak lupa pada kulitnya.

Dalam cerita selanjutnya di novel ini, Cicero bertemu dengan Julius Caesar.  Tokoh yang satu ini digambarkan sebagai playboy yang picik. Caesar dikatakan mempunyai kesukaan meniduri wanita, bahkan terhadap istri teman dekatnya sendiri. Selain itu Caesar terbukti merupakan pemikir visioner yang licik. Dia beserta Pompeius, jenderal besar romawi, melakukan eksperimen terhadap sistem pemerintahan. Dengan melucuti Lucullus, jenderal romawi yang lain, Caesar menjadikan Pompeius menjadi penguasa daerah timur daerah jajahan romawi. Penguasa tunggal yang mestinya tidak boleh ada dalam konsep republik (kekuasaan harus dibagi).

Cicero berpidato di Senat

Cicero berpidato di Senat

Dalam cerita selanjutnya Cicero harus melawan Catilina dan Hybrida dalam pemilihan konsul yang dibekingi oleh Caesar dan Crassus, musuh lama Cicero. Cicero harus melawan kesulitan karena Catilina dengan uang Crassus telah membeli mayoritas suara. Mencekam sekali, di gambar diatas merupakan fresco dari kejadian Cicero mencerca Catilina. Dalam cerita ini kapasitas Tiro sebagai pencipta sistem stenografi pertama di dunia patut diacungi jempol. Dengan bantuan Tiro, Cicero berhasil meyakinkan Hortensius dan kaum aristokrat yang notabenenya adalah musuh politiknya untuk mendukungnya menjadi konsul. Begitulah politik, tidak ada musuh atau teman abadi, yang ada hanya kepentingan yang lebih mesti didahulukan.

Novel ini cukup bagus. Dalam novel ini saya belajar tentang konsep pemerintahan Roma, biografi Cicero, dan politik praktis sekaligus. Bahkan saya dengar novel ini direncanakan dibuat dalam bentuk trilogi. Hmmm, jadi penasaran untuk mengetahui lanjutan Imperium.

Imperium in a broad sense translates as power. In ancient Rome the concept applied to people, and meant something like “power status” or “authority“, or could be used with a geographical connotation and meant something like “territory“. It is not to be mistaken with auctoritas (“authority”).

Wikipedia, “Imperium”

Skor: 8.1/10


5 Responses to “Resensi Buku: Imperium”


  1. Desember 14, 2008 pukul 5:09 am

    wah, mantap mantap, pengen baca lebih lengkap nie…

  2. Desember 16, 2008 pukul 9:10 pm

    telek, dibilang anak kecil <_<

    balikin cuy <_<

    pinjemin buku yang laen siah <_<

  3. 3 patomi
    Desember 19, 2008 pukul 4:10 am

    sepertinya menarik…

  4. Desember 23, 2008 pukul 2:22 am

    sipp….terus berbagi cerita apa yang kamu dapat

  5. 5 alica
    Januari 26, 2009 pukul 6:29 am

    jadi ini ceritanya tentang cicero yah?

    tampaknya orang yg baik (padahal ga baca keseluruhan apa yg ditulis,,keburu lieur,hehe)

    hmm hmmm…
    radix kasian betul,,diteror sama orang seperti ini..hahahhha

    btw,,ni komen ke-10,,,aq ga ada utang lagih yaaaahhh..

    tinggal utangmu sajah yg blum lunas….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Human Calender

My beloved reader

  • 122,601 orang

Survei Mahasiswa

Tok…Tok… Anybody Home?

A little bit about my personality

Click to view my Personality Profile page

Our visitors


%d blogger menyukai ini: