Archive for the 'Spiritual' Category

31
Okt
09

Kebijaksanaan Cendol

Karena akan menerima tamu dari Thailand, maka Kyai itu merasa harus menyuguhkan Jawa. Segala yang nampak pada Pondok Pesantren yang dipimpinnya, sebenarnya relatif sudah mengekspresikan tradisional Jawa. Potret desa, model-model bangunan dan irama kehidupannya. Sang Tamu besok mungkin akan mendengarkan para santri berbincang dalam bahasa Arab atau Inggris. Tapi itu bukan masalahnya. Yang penting Kyai kita ini tidak akan mungkin menyediakan Coca Cola ke depan hidung tamunya dari tanah Thai itu.

Demikianlah akhirnya sekalian Santriyah yang tergabung dalam Qismul Mathbah (Departemen Dapur) bertugas memasak berbagai variasi menu Jawa. Dari sarapan grontol, makan siang nasi brongkos, malam gudeg, besoknya pecel, lalu sayur asem dengan snack lemet dan limpung.

Sang Kyai sendiri “cancut tali wondo” mempersiapkan suguhan siang hari yang diperkirakan bakal terik. Ia dengan vespa kunonya melaju, membawa semacam tempat sayur yang besar. Empat kilometer ditempuh, dan sampailah ia ke warung kecil di tepi jalan. Seorang Bapak tua penjual cendol. Sang Kyai sudah memperhitungkan waktunya untuk sampai pada bapak cendol ini pada dinihari saat jualannya. Yakni ketika stock masih melimpah.

Terjadilah dialog dalam bahasa Jawa krama-madya.

Masih banyak, pak ?
Masih Den, Wong baru saja bukak beberan

Alhamdulillah, ini akan saya beli semua. Berapa ?
Pak Cendol kaget, Lho, Jangan Den ! Jawabnya spontan

Sang Kyai pun tak kalah kagetnya : Kok Jangan ?
Lho, Kalau dibeli semua, bagaimana saya bisa berjualan ?

Sang Kyai terbelalak. Hatinya mulai knocked-down, tapi belum disadarinya.
Lho, kan saya beli semuanya, jadi bapak nggak perlu repot-repot berjualan lagi disini hari ini.

Pak Cendol tertawa dan sang Kyai makin terperangah.
Orang jualan kan untuk dibeli. Kalau sudah laku semua kanmalah beres ?

Pak Cendol makin terkekeh.
Panjenengan ini bagaimana tho den ! Kalau dagangan saya ini dibeli semua, nanti kalau orang lainnya mau beli bagaimana ! Mereka kan tidak kebagian !

Knock-Outlah Sang Kyai
Ia terpana. Pikirannya terguncang. Kemudian sambil tergeregap ia berkata : Maafkan, maafkan saya pak. Baiklah sekarang bapak kasih berapa saja yang bapak mau jual kepada saya.

Seperti seorang aktor di panggung yang disoraki penonton, ia kemudian mendapatkan vespanya dan ngeloyor pulang.
Sesampainya di Pondok ia langsung memberikan cendol ke dapur dan memberi beberapa penugasan kepada santriyah, kemudian ia menuju kamar, bersujud syukur dan mengucapkan istighfar, lantas melemparkan tubuhnya di ranjang.

Alangkah dini pengalaman batinku gumannya dalam hati. Sembahyang dan latihan hidupku masih amat kurang. Aku sungguh belum apa-apa di depan orang luar biasa itu. Ia tidak silau oleh rejeki nomplok. Ia tidak ditaklukan oleh sifat kemudahan-kemudahan memperoleh uang. Ia terhindar dari sifat rakus. Ia tetap punya dharma kepada sesama manusia sebagai penjual kepada pembeli-pembelinya.

Ia bukan hanya seorang pedagang. Ia seorang manusia !

Oleh Emha Ainun Nadjib

03
Des
08

Malaikat Juga Tahu

Pas Liqo kemaren, gue ditanya Galih musik apa yang sedang kudengerin… kujawab dengan jujur: Malaikat Juga Tahu, karangan Dewi Lestari alias Dee…

Terlalu pop untuk seleraku? kita lihat saja…

Lanjutkan membaca ‘Malaikat Juga Tahu’

31
Okt
08

Sebuah Cerpen dari Sahabat

Pengen nulis sesuatu, tapi apa ya???

Bingung…

Iseng-iseng lihat hardisk, membaca sesuatu yang menarik. Ada file dari *****. Sebuah cerita pendek a.k.a cerpen.

Jadi kepikir buat naro di blog ini…


Saya apreciate banget ama yang nulis. Dia sahabatku di SMA. Sama-sama gila, sama-sama konyol, sama-sama sok idealis, dreamer too… Orang-orang bilang kami “cocok”, tapi jelas bagi diri saya. Seorang sahabat jelas lebih berharga daripada pacar. Akhirnya status kami tidak naik-naik he he 😀

Lanjutkan membaca ‘Sebuah Cerpen dari Sahabat’

12
Okt
08

Sebuah Bilangan Bernama “Fu”

 bilangan Fu

Liburan kali ini cukup menarik. Tidak saja karena saya untuk pertama kalinya ditilang polisi (dengan bujuk-rayu-tipu keluar 30 ribu rupiah, sial), main di Atlantis Ancol (dan berenang gaya batu disana), atau nonton “Chika” di tengah malam sambil mengutuk setiap orang yang terlibat di film ini karena kesampahannya (kita simpan ini untuk postingan lain kali ya). Tetapi juga karena saya bisa mengisi waktu saya dengan melakukan hobi nomor satu saya: Membaca.

Syahdan, terdapat tiga buku yang merupakan target bacaan saya selama liburan: Traveler’s Tale, Maya: Misteri Dunia dan Cinta (pengarangnya, Jostein Gardner, adalah penulis Dunia Sophie yang keren itu), dan Bilangan Fu.

Dua buku saya baca sampai habis yaitu Bilangan Fu dan Traveler’s Tale. Sedangkan Maya masih saya baca sampai sekarang karena muatan filosofisnya yang cukup berat. Juga karena isinya yang berplot sangat lambat. Bosen…

Mengenai dua buku yang lain akan saya bahas lain kali. Postingan kali ini saya dedikasikan untuk Bilangan Fu karangan Ayu Utami. Sebuah karya fenomenal yang berharga cukup mahal (Rp. 51 ribu di Togamas) dan tebal (547 halaman).

Awal membaca buku ini saya merasa ada pola yang mirip dengan Saman dan Larung, dua buku fenomenal dan “kritis” karangan Ayu Utami yang lain. Kritik terhadap perubahan jaman, sebuah hujatan terhadap birokrat-birokrat politik, dan sebuah pencerahan terhadap abad spiritual new age. A little bit obvious isn’t it? This is Ayu Utami after all….

Tetapi tidak…. bagi beberapa orang, Bilangan Fu mengalami dekadensi bila dibandingkan dua saudaranya itu. Kehilangan kemilaunya bila memakai istilah Kaca. Saya pribadi berpendapat kalo buku ini seperti spiritual kritis yang ngepop. Berusaha memberikan pencerahan (pluralisme? hmmm) dengan menggunakan bahasa yang membumi, kalo tidak mau dibilang populer. Membaca backcovernya juga bisa membuat orang salah paham. Seakan-akan buku ini membahas cinta segitiga yang klise antara Yuda si “iblis” , Parang Jati si “malaikat”, dan Marja si “manusia”. Terdengar sangat pop… Begitu mirip dengan chiclit ato serial drama romantis bila tidak melihat nama penulis dan kovernya yang aneh….  Mungkin memang disengaja karena editornya ingin buku ini meraih segmen pasar yang lebih luas.

Secara isi, buku ini sangat menarik. Buku ini bisa dibilang memilki inti terhadap sebuah kritik… Kritik terhadap tiga hal yang sering kita hadapi dalam sehari-hari namun luput dari pandangan kita. Modernisme, monoteisme, dan militerisme. Khusus buat dua yang pertama bisa dibilang sesuatu yang menarik. Jarang ada penulis yang bisa membaca masalah jaman seperti ini dan mengemasnya dalam bahasa yang sangat indah. Bahasa yang sangat kental suasana Jawa dan Indonesianya… Begitu penuh dengan istilah perwayangan, legenda-legenda, dan sejarah nusantara…    

Sedangkan mengenai militerisme saya merasa tidak begitu relevan lagi terhadap kondisi jaman sekarang. Secara, militer udah balik ke barak sekarang. Meski masih banyak operasi intelejen yang misterius terjadi.

Mengenai kesimpulan dari buku ini saya merasa buku ini memang berusaha membawa isu pluralisme (terlihat dari chapter “kritik atas modernisme” dan “kritik hu atas monoteisme”). Tetapi diluar dari perdebatan mengenai hal itu (saya berdebat dengan teman saya, Adhit, si pejuang anti pengkafiran di Surabaya, mengenai baik buruknya pluralisme) bisa dibilang buku ini membawa isu yang sensitif menuju level pencerahan yang pantas untuk dibicarakan oleh orang-orang yang peduli akan kondisi jaman.

Pertama, si Ayu Utami membawa masalah takhayul sebagai momok dan bahan joke bagi masyarakat modern. Kemudian dia memberitakan mengenai sudut pandang post-modernisme yang mengajarkan kepada kita bahwa takhayul itu tidak buruk. Melainkan hanya sudut pandang terhadap jaman, dimana proses penyelamatan alam merupakan tujuan dari takhayul. Bila anda pernah membaca virus akal budi nya Richard Brodie atau pernah belajat tentang meme sebelumnya pasti bisa menangkap pesan ini dengan lebih baik.

Selanjutnya Ayu Utami membawa pesan tentang adanya agama bumi dan agama langit. Dia berusaha menunjukkan bahwa setiap agama memilki tujuan masing-masing (sekali lagi, ini meme yang kuat). Dan setiap orang berhak untuk menjalankan setiap agama yang dipercayainya dengan caranya masing-masing. Begitu keras kritik tentang meme ini (yang sayangnya digambarkan dalam bentuk islam fundamental kupukupu alias farisi) sehingga saya tidak menyarankan anda baca dulu sebelum anda bisa open mind terhadap semua perbedaan. 

Terakhir dia membawa isu militerisme ke dalam buku ini. Mengenai pasukan ninja yang cukup aneh dan terjadi pada saat gejolak politik dimana Gusdur menghadang Megawati di pemilu 1999. Selanjutnya membahas mengenai pembunuhan terhadap dukun santet dari jawa timur ke jawa tengah. Kesemua cerita itu dihiasi dengan legenda-legenda dan mitos-mitos tanah air, seperti sangkuriang dan batara durga. Sangat menarik dan kaya akan unsur budaya tanah air.

Sayangnya endingnya cukup klise bagi saya. Salah satu tokohnya meninggal, sebagaimana martir-martir lain meninggal dunia. Dia hanya meninggalkan sahabatnya si Yuda dan Marja tanpa mengetahui ujung keberhasilan dari rencananya menyelamatkan daerah watugunung dari perusakan lingkungan. Yap, si parang jati yang konon merupakan anak geologi ITB itu mati di tangan gerombolan misterius. Hehehe, jadi kepikiran apa ada anak ITB seperti si Parang Jati? Begitu idealis dan terencana tapi juga bisa melakukan action dengan baik…. tidak banyak debat dan diskusi (seperti sekarang) melainkan melakukan saja apa yang ingin dia lakukan. Seperti Iklan Nike,  Just do it.

My last verdict? Ini merupakan buku yang kritis terhadap perubahan jaman. Bahkan bisa membuka mata anda kalo anda siap untuk menerimanya. tujuan akhir buku ini mungkin bisa terbayang dari kovernya yang ramah lingkungan: menyelamatkan lingkungan hidup dengan cara sangat puitis dan sastrawi. Sayangnya telalu simpel kalo cuma dalam satu buku aja. Mungkin lebih baik dijadikan tiga buku untuk merangkum meme pikiran si Ayu Utami ini. Tapi kalo cuma buat bacaan pas libur lebaran yang membosenin cukup bagus lah 😛

My score? 7.0/10

Not Bad…. Cukup menarik bila anda suka baca tentang yang “ringan-ringan”. Saya merekomendasikan buku ini untuk anda yang mencari pencerahan setelah letih dan bosan akan kehidupan generasi pop, Pencinta lingkungan hidup yang mencari metode untuk melestarikan lingkungan via adat budaya di daerahnya, juga untuk anda yang mencari kilas balik pristiwa akan pergolakan politik dan budaya jaman pasca reformasi. Recommended…! 

26
Sep
08

Marhaban Ya Liburan

Yakk…

judul posting kali ini ga salah. Marhaban ya liburan eh lebaran…

Selamat datang kembali kemacetan saat mudik. Selamat datang kembali harga-harga yang naik akibat ulah spekulan-spekulan tak bertanggung jawab. Selamat datang kembali sms-sms yang telat terkirim akibat servernya down. Selamat datang kembali wahai ketupat lebaran dan opor ayam yang nikmat itu (glekkkh udah pengen makan aja bawaannya). Selamat datang kembali wahai liburan panjang yang melenakan kita dari kewajiban menulis laporan TA dan tugas-tugas keparat itu. Dan (tentu saja) selamat datang baju baru, kenaikan berat badan, dan tamu-tamu silaturahmi di lebaran tahun ini.

Well, saya cuma mau mengingatkan lagi kepada teman-teman sekalian akan fakta yang sederhana ini:

Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1429H

Taqobalallahu minna wa minkum,

Shiyamana wa shiyamakum

Minal Aidin Wal Faidzin

Mohon maaf lahir dan batin

Semoga kita bisa bertemu kembali dengan bulan puasa tahun depan. Semoga puasa kita diterima oleh Allah SWT. Dan semoga puasa tahun ini menjadikan kita menjadi orang yang lebih baik. Amin.

Omong-omong tentang lebaran, mungkin ada sesuatu yang perlu diluruskan mengenai frase kata minal adidin wal faidzin dan halal bil halal. Kedua kalimat ini tidak dikenal dalam bahasa arab. Bahkan artinya membingungkan apabila dibaca, kecuali bila diterjemahkan satu persatu. Tidak percaya? Minal aidin wal faizin terjemahannya adalah: dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Ini tentu bukan kalimat sempurna. Entah dipenggal dari kalimat apa. Kalau mau menebak-nebak, mungkin yang dimaksud adalah: Semoga Anda termasuk orang-orang yang kembali (ke jalanTuhan) dan termasuk orang yang menang (melawan hawa nafsu). 

Yang lebih pelik adalah memahami asal-muasal halal bi halal. Sampai kuping berdenging pun kita akan susah mengerti kenapa frasa yang berarti halal dengan halal itu kemudian kita pakai untuk pertemuan setelah Lebaran. Apakah karena dalam pertemuan itu kita dihalalkan makan pada siang hari, sesuatu yang haram dikerjakan saat Ramadan. Tapi apa bedanya kalau pertemuannya pada malam hari?

Well, itulah keunikan Lebaran di Indonesia. Memang orang indonesia itu kreatif, bahkan bahasa arab pun bisa “dipaksa” mengikuti keinginan kita. Mana ada bangsa lain yang bisa seperti ini? (kecuali jepun dan singapur dengan japlish dan singlishnya kali?). Viva Indonesia….

Selamat menunggu hari raya idul fitri 1 syawal 1429H. Saya akan di Kalimantan dari tanggal 28 september sampai 9 Oktober 2008. Jadi kemungkinan besar YM dan blog ini tidak akan dibuka sampai tanggal 9 nanti. CU 🙂

Pesan sponsor:

“Jangan lewatkan lebaran kali ini dengan membeli baju baru dan perilaku konsumtif lainnya. Ingatlah kalau salah satu makna puasa satu bulan penuh adalah belajar berbagi dengan sesama, terutama dengan saudara-saudara kita yang tidak mampu. Jadikan idul fitri sebagai hari dimana kita memakai “baju” hati yang baru, bukan sekedar penampilan baru” 

10
Sep
08

Lentera Jiwa

Tidak banyak lagu di Indonesia yang bisa mengantarkan pesan seperti lagu seperti ini. Kebanyakan lagu rata-rata bercerita tentang cinta antara lawan jenis, perselingkuhan, dan nasib orang jomblo (seperti saya hehehe…)…

Basi banget…

Tapi lagu ini berbeda, melihat liriknya dan mendengarkan melodinya terdengar sangat indah. Bercerita tentang orang-orang yang mendengar panggilan dari dalam dirinya, mengikutinya, dan bahagia karenanya. Woops, terdengar seperti “sang alkemis” paulo coelho kan?

Konon, seorang Andi F Noya yang beken sebagai pengisi acara kickandy saja terpengaruh oleh kedashyatan lagu ini. Mengikuti panggilan jiwanya dia memutuskan mundur dari pimpinan redaksi metro tv. fakta-fakta lain dari lagu ini bisa dilihat di sini.

Jadi apa moral ceritanya? Seperti cerita lama akan kodok tuli yang tidak perduli akan cemohan sekitarnya. Dan terus mendaki pohon licin hingga berhasil mencapai puncak dan mendapatkan hadiahnya, moral cerita lagu ini sederhana saja. Follow your true dessire, be your self… Berkacalah pada dirimu sendiri, bermimpilah, dan kejar mimpi itu hingga berhasil…

Kebahagiaan sejati adalah apabila seseorang mengejar hasrat sejatinya….

Baca saja liriknya:

lama sudah kumencari apa yang hendak kulakukan
sgala titik kujelajahi tiada satupun kumengerti
tersesatkah aku disamudra hidupku

kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
inikah jalanku inikah takdirku

reff:

kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku

back to reff

back to reff

alamat donlot lagu ada di sini

(PERHATIAN: lagu yang anda donlot bukan bajakan, melainkan lagu promosi)

Selamat mendengarkan dan semoga anda menemukan lentera jiwa anda (dan hidup bahagia dengannya)!

06
Sep
08

Marhaban Ya Ramadhan

Bulan yang sangat suci ini akhirnya datang lagi….

Betapa besar kemuliaan yang dimilkinya hingga disebut sebagai bulan suci, malam seribu bulan, bahkan malam turunnya alquran (berarti bulan kelahiran alquran)….

Marilah kita isi hari-hari di bulan ini dengan beramal saleh dan berbuat kebaikan…

Omong-omong tentang bulan ini, sekarang saja saya juga merasa ada keajaiban terjadi pada bulan ini…

Pertama, Gue bisa bangun sahur sendiri, Alhamdulilah…

Kedua, Internet udah kepasang di kosanku. Berarti mobilitas dan informasi yang kudapat selalu up to date (alhamdulilah, tepat pada waktunya, selagi TA lagi dikerjain)

Ketiga, pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang sebelumnya hanya kupikirkan tiba-tiba bertemu… Zup, selagi mikir mau ketemu orang itu, tiba-tiba dia ada di depan gue. Bingung kan?

Keempat, kebetulan-kebetulan yang terjadi ketika saya berkehendak. Saya bukan pendukung utama law of attraction, tetapi ketika memikirkan sesuatu ada aja yang terkabul. Contohnya, tadi malam ketika ngidam kurma (yang tidak kebeli-beli karena lagi pelit) ada aja yang nawarin kurma.

Kelima, Mimpi-mimpi aneh….

Subahanallah, memang ini bulan kesempurnaan, Semoga kita dapat melalui bulan ini dengan mendapatkan hikmah dan hidayahnya, bukan sekedar lapar dan haus. Amin….




Human Calender

My beloved reader

  • 125,642 orang

Survei Mahasiswa

Tok…Tok… Anybody Home?

A little bit about my personality

Click to view my Personality Profile page

Our visitors