Posts Tagged ‘Buku

13
Des
08

Resensi Buku: Imperium

Bandung, 14 Desember

Imperium

Akhir-akhir ini saya tertarik membaca cerita berlatar belakang tentang sejarah atau biografi orang-orang besar  yang pernah hidup. Terutama tentang sejarah Romawi kuno. Tidak heran apabila saya pernah membahas tentang novel Roma di blog ini. Disamping membaca Roma, saya  juga membaca Dyah Pitaloka, Gajah Mada, dan Bumi Manusia. Sebenarnya saya juga ingin membaca Babad Tanah Jawi, tapi masih belum punya waktu luang untuk melakukannya.

Mengenai Imperium, ini adalah novel yang membuat saya penasaran semenjak saya melihat judulnya di pameran Gramedia di Campus Center ITB dua bulan yang lalu. Tidak lama berselang, saya pergi ke festival film CCF dan melihat poster tentang bedah buku ini dan langsung terbersit dalam otak impulsif saya “Aku mesti baca buku ini!”

Lanjutkan membaca ‘Resensi Buku: Imperium’

18
Nov
08

Fire Fighter Daigo

Setelah lama ga posting apa-apa, jadi kangen pengen ngisi blog ini.

200px-daigo16

Kalo lagi stres seperti sekarang kerjaan saya adalah have fun dan menjalankan kehidupan hedonis. Apa saja? Nonton film (terakhir nonton Quantum of Solace dan Roommate), main bilyar ama anak-anak, main RISK di sekre siaware, jalan-jalan dan wisata kuliner, karokean di NAV, main words challenge di facebook, serta tidak ketinggalan hobi yang terpenting: BACA KOMIK.

Lanjutkan membaca ‘Fire Fighter Daigo’

12
Okt
08

Sebuah Bilangan Bernama “Fu”

 bilangan Fu

Liburan kali ini cukup menarik. Tidak saja karena saya untuk pertama kalinya ditilang polisi (dengan bujuk-rayu-tipu keluar 30 ribu rupiah, sial), main di Atlantis Ancol (dan berenang gaya batu disana), atau nonton “Chika” di tengah malam sambil mengutuk setiap orang yang terlibat di film ini karena kesampahannya (kita simpan ini untuk postingan lain kali ya). Tetapi juga karena saya bisa mengisi waktu saya dengan melakukan hobi nomor satu saya: Membaca.

Syahdan, terdapat tiga buku yang merupakan target bacaan saya selama liburan: Traveler’s Tale, Maya: Misteri Dunia dan Cinta (pengarangnya, Jostein Gardner, adalah penulis Dunia Sophie yang keren itu), dan Bilangan Fu.

Dua buku saya baca sampai habis yaitu Bilangan Fu dan Traveler’s Tale. Sedangkan Maya masih saya baca sampai sekarang karena muatan filosofisnya yang cukup berat. Juga karena isinya yang berplot sangat lambat. Bosen…

Mengenai dua buku yang lain akan saya bahas lain kali. Postingan kali ini saya dedikasikan untuk Bilangan Fu karangan Ayu Utami. Sebuah karya fenomenal yang berharga cukup mahal (Rp. 51 ribu di Togamas) dan tebal (547 halaman).

Awal membaca buku ini saya merasa ada pola yang mirip dengan Saman dan Larung, dua buku fenomenal dan “kritis” karangan Ayu Utami yang lain. Kritik terhadap perubahan jaman, sebuah hujatan terhadap birokrat-birokrat politik, dan sebuah pencerahan terhadap abad spiritual new age. A little bit obvious isn’t it? This is Ayu Utami after all….

Tetapi tidak…. bagi beberapa orang, Bilangan Fu mengalami dekadensi bila dibandingkan dua saudaranya itu. Kehilangan kemilaunya bila memakai istilah Kaca. Saya pribadi berpendapat kalo buku ini seperti spiritual kritis yang ngepop. Berusaha memberikan pencerahan (pluralisme? hmmm) dengan menggunakan bahasa yang membumi, kalo tidak mau dibilang populer. Membaca backcovernya juga bisa membuat orang salah paham. Seakan-akan buku ini membahas cinta segitiga yang klise antara Yuda si “iblis” , Parang Jati si “malaikat”, dan Marja si “manusia”. Terdengar sangat pop… Begitu mirip dengan chiclit ato serial drama romantis bila tidak melihat nama penulis dan kovernya yang aneh….  Mungkin memang disengaja karena editornya ingin buku ini meraih segmen pasar yang lebih luas.

Secara isi, buku ini sangat menarik. Buku ini bisa dibilang memilki inti terhadap sebuah kritik… Kritik terhadap tiga hal yang sering kita hadapi dalam sehari-hari namun luput dari pandangan kita. Modernisme, monoteisme, dan militerisme. Khusus buat dua yang pertama bisa dibilang sesuatu yang menarik. Jarang ada penulis yang bisa membaca masalah jaman seperti ini dan mengemasnya dalam bahasa yang sangat indah. Bahasa yang sangat kental suasana Jawa dan Indonesianya… Begitu penuh dengan istilah perwayangan, legenda-legenda, dan sejarah nusantara…    

Sedangkan mengenai militerisme saya merasa tidak begitu relevan lagi terhadap kondisi jaman sekarang. Secara, militer udah balik ke barak sekarang. Meski masih banyak operasi intelejen yang misterius terjadi.

Mengenai kesimpulan dari buku ini saya merasa buku ini memang berusaha membawa isu pluralisme (terlihat dari chapter “kritik atas modernisme” dan “kritik hu atas monoteisme”). Tetapi diluar dari perdebatan mengenai hal itu (saya berdebat dengan teman saya, Adhit, si pejuang anti pengkafiran di Surabaya, mengenai baik buruknya pluralisme) bisa dibilang buku ini membawa isu yang sensitif menuju level pencerahan yang pantas untuk dibicarakan oleh orang-orang yang peduli akan kondisi jaman.

Pertama, si Ayu Utami membawa masalah takhayul sebagai momok dan bahan joke bagi masyarakat modern. Kemudian dia memberitakan mengenai sudut pandang post-modernisme yang mengajarkan kepada kita bahwa takhayul itu tidak buruk. Melainkan hanya sudut pandang terhadap jaman, dimana proses penyelamatan alam merupakan tujuan dari takhayul. Bila anda pernah membaca virus akal budi nya Richard Brodie atau pernah belajat tentang meme sebelumnya pasti bisa menangkap pesan ini dengan lebih baik.

Selanjutnya Ayu Utami membawa pesan tentang adanya agama bumi dan agama langit. Dia berusaha menunjukkan bahwa setiap agama memilki tujuan masing-masing (sekali lagi, ini meme yang kuat). Dan setiap orang berhak untuk menjalankan setiap agama yang dipercayainya dengan caranya masing-masing. Begitu keras kritik tentang meme ini (yang sayangnya digambarkan dalam bentuk islam fundamental kupukupu alias farisi) sehingga saya tidak menyarankan anda baca dulu sebelum anda bisa open mind terhadap semua perbedaan. 

Terakhir dia membawa isu militerisme ke dalam buku ini. Mengenai pasukan ninja yang cukup aneh dan terjadi pada saat gejolak politik dimana Gusdur menghadang Megawati di pemilu 1999. Selanjutnya membahas mengenai pembunuhan terhadap dukun santet dari jawa timur ke jawa tengah. Kesemua cerita itu dihiasi dengan legenda-legenda dan mitos-mitos tanah air, seperti sangkuriang dan batara durga. Sangat menarik dan kaya akan unsur budaya tanah air.

Sayangnya endingnya cukup klise bagi saya. Salah satu tokohnya meninggal, sebagaimana martir-martir lain meninggal dunia. Dia hanya meninggalkan sahabatnya si Yuda dan Marja tanpa mengetahui ujung keberhasilan dari rencananya menyelamatkan daerah watugunung dari perusakan lingkungan. Yap, si parang jati yang konon merupakan anak geologi ITB itu mati di tangan gerombolan misterius. Hehehe, jadi kepikiran apa ada anak ITB seperti si Parang Jati? Begitu idealis dan terencana tapi juga bisa melakukan action dengan baik…. tidak banyak debat dan diskusi (seperti sekarang) melainkan melakukan saja apa yang ingin dia lakukan. Seperti Iklan Nike,  Just do it.

My last verdict? Ini merupakan buku yang kritis terhadap perubahan jaman. Bahkan bisa membuka mata anda kalo anda siap untuk menerimanya. tujuan akhir buku ini mungkin bisa terbayang dari kovernya yang ramah lingkungan: menyelamatkan lingkungan hidup dengan cara sangat puitis dan sastrawi. Sayangnya telalu simpel kalo cuma dalam satu buku aja. Mungkin lebih baik dijadikan tiga buku untuk merangkum meme pikiran si Ayu Utami ini. Tapi kalo cuma buat bacaan pas libur lebaran yang membosenin cukup bagus lah 😛

My score? 7.0/10

Not Bad…. Cukup menarik bila anda suka baca tentang yang “ringan-ringan”. Saya merekomendasikan buku ini untuk anda yang mencari pencerahan setelah letih dan bosan akan kehidupan generasi pop, Pencinta lingkungan hidup yang mencari metode untuk melestarikan lingkungan via adat budaya di daerahnya, juga untuk anda yang mencari kilas balik pristiwa akan pergolakan politik dan budaya jaman pasca reformasi. Recommended…! 

06
Sep
08

Resensi Buku: “ROMA”

Judul: “ROMA, Kisah Epik Dari Zaman Romawi Kuno”

Pengarang: Steven Saylor

Harga: sekitar Rp. 100ribuan

Tidak seperti biasa kali ini saya mencoba untuk meresensi salah satu buku favorit yandi. Selamat membaca.

Ini adalah buku yang saya beli ketika lagi mecoba mencari bahan-bahan romawi kuno. Awalnya saya mengira ini buku sejarah yang berisi plot-plot sejarah dan gambar-gambar romawi. Dan saudara-saudara sekalian, ternyata saya salah!

Buku ini adalah sebuah novel.  Bukannya saya anti novel, tetapi prinsip saya daripada beli buku cuma untuk dibaca sekali mending yang sarat info biar bisa dibaca berulang-ulang. And guess what? Saya salah lagi.

Ini benar-benar buku yang bagus. Plot ceritanya tersusun rapi, bahkan bisa dikatakan unik. Tidak ada tokoh utama yang berperan solo di sini. Yang menjadi tokoh utamanya adalah garis darah atau pohon keluarga. Benar-benar unik dan cocok untuk menggambarkan perkembangan sebuah kota dengan legenda yang melingkupinya.

Cerita dimulai pada sebuah lokasi yang kelak akan menjadi kota roma. Sebuah daerah yang merupakan rute pedagang garam dan berada di tepi sungai tiber. Disini kita akan bertemu dengan tokoh awal yang menjadi nenek moyang dari tokoh-tokoh lain dalam cerita. Disini dimulai lah legenda pertama kota roma, yaitu Fascinus, dewa (atau dewi???) pertama bangsa  roma yang berbentuk unik (seperti P**** dengan sayap). Pohon keluarga yang lahir merupakan cabang dari keluarga potitus dan pinarius.

Cerita terus berlanjut hingga bab-bab berikutnya: legenda Hercules dan Cacus, cerita tentang remus dan romulus (pendiri kota roma atau lebih tepatnya dinding kota roma),  cerita tentang perawan vestal, penaklukan-penaklukan roma terhadap sebagian  eropa dan afrika,  dan tentu saja cerita tentang Julius Caesar, dan Kaisar pertama roma, Augustus).

Banyak informasi menarik yang saya dapat dari buku ini. Apakah kamu tahu arti awal dari kata caesar?   Caesar adalah nama keluarga yang berarti “pemilik rambut kepala yang bagus”. Karena imperialisme romawi dan kekuasaan julius caesar di senat (ingat! julius caesar tidak pernah diangkat ataupun mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar romawi) maka entah sejak kapan kata caesar berarti pemegang kuasa atas daerah yang sangat luas. Selain itu buku ini juga memberikan gambaran akan nasib suatu imperium yang menjadi sangat  besar dan demokratis namun rapuh dan penuh intrik sehingga melupakan jati dirinya sendiri. Benar-benar mirip dengan Amerika Serikat, bahkan penulis buku ini juga mengakuinya.

Penulis buku ini, Steven Saylor memang merupakan ahli sejarah yang sangat mumpuni. Jalinan cerita dari Roma merupakan hasil penelusuran panjang terhadap literatur-literatur sejarah dari Titus Livius, William Smith, Cicero, dan Ovid.

Tidak rugi rasanya membaca buku ini (awalnya merasa sedikit rugi, membayar Rp. 1xx Ribu  untuk sebuah novel). Tetapi jalinan cerita yang rumit dan kisah sejarah yang penuh dengan intrik (dan juga kemiripan ceritanya dengan AS) membuat saya penasaran dan terus membaca buku ini sampai habis.

Benar-benar bagus. Poin saya untuk buku ini adalah 8.0/10.

Selamat membaca!




Human Calender

My beloved reader

  • 126,419 orang

Survei Mahasiswa

Tok…Tok… Anybody Home?

Love to Click

  • Tidak ada

A little bit about my personality

Click to view my Personality Profile page

Our visitors