Posts Tagged ‘Film

11
Des
08

BOLT

Paris van Java, 9 Desember 2008

yandinontonbolt

Apa sih yang menarik dalam film ini? Toh, kenyataannya film animasi umumnya sama saja dalam segi ramuan cerita. Campurkan cinta, konflik keluarga, masalah dengan pihak kapitalis, tampilkan karakter yang imut…. Well, there is not many diferentiation here. Memang ini formulanya kalo mau mengambil hati penonton SU (semua umur).

Begitu juga dengan Bolt. Film ini mengambil semua formula yang pernah berlaku dalam Finding Nemo, Toy Story, Shrek 1,2,3 dan Wall-E. Pengejaran terhadap sesuatu atau seseorang yang dicintai. Dan ditengah pengejaran tersebut terdapat konflik yang membuat petualangan tersebut menjadi menegangkan dan menarik. Tambahkan dengan bumbu-bumbu persahabatan (Finding Nemo dan Shrek 1,2,3) dan kisah cinta romantis (Wall-E). Buzz! Jadilah film animasi 3D yang laris manis bak kacang goreng.

Bahkan dalam film ini terdapat cameo burung merpati yang pernah hadir di Finding Nemo.

Lanjutkan membaca ‘BOLT’

13
Okt
08

Saat Sampah Kita Sebut Sebagai Film

Hmmmf… Apa sih kerjaan orang-orang di lembaga sensor film saat ini? begitu juga dengan ulama-ulama di MUI? Atau Mahasiswa-mahasiswi idealis yang berkata kalo dirinya adalah penjaga nilai-nilai? Guardian of value? Dimana kalian sekarang??? Masa sampah disebut film???

Pikiran yang terlintas ketika menonton film Chika

Jujur saja, kalau saja bukan karena ajakan teman baik saya yang sudah susah payah menjemput saya di Cengkareng dan mentraktir saya main di Ancol, Rasanya tidak mungkin saya menonton Film-Remaja-Perusak-Moral ini. Well, selera teman saya Yang-Namanya-Tidak-Akan-Disebut (YNTAD) ini memang cukup aneh. Pertama, dia berhasil mengajak saya menonton film Kawin Kontrak beberapa bulan lalu. Dan sialnya dia bilang film ini bagus karena pemerannya “lucu”. Kemudian pada hari kamis tanggal 9 Oktober pukul 22.00 WIB kemarin dia berhasil menjebak saya kembali menonton salah satu film Indonesia terburuk lain, Chika.

Benar-benar terjebak. Sepanjang film saya sibuk mengutuk film ini. Inilah akibatnya kalau memilih film cuma dari posternya saja.

Alhasil, saya tinggalkan YNTAD di saat 20 menit menjelang akhir film, bukan karena saya tidak tahu sopan santun pada teman saya ini. Melainkan karena saya harus mengejar travel X-Trans saya yang akan berangkat pukul 23.45 WIB (karena besoknya ada briefing Galasin di lapangan basket CC). Meski tidak dapat saya sembunyikan perasaan bahwa saya akan muntah kalo menonton film ini sampai akhir (peace ya YNTAD 🙂 )

Sinopsis film ini sendiri lebih baik bila dibaca di blog ini

Bisa dibilang selera kita sebagai penonton sering dianggap remeh oleh para produser film Indonesia. Okelah, kita lihat bahwa Laskar Pelangi dan Janji Joni adalah film yang bagus bagi orang-orang dengan selera tinggi. Tetapi disamping film-film bagus seperti LP, tumbuh subur pula film-film pengumbar syahwat dengan tujuan mengeruk uang sebanyak-banyaknya dari penonton baru akil balig dengan pikiran masih polos. Kenyataanya film-film ini berating “Remaja” meski sesungguhnya lebih cocok dengan rating “Dewasa”. Apakah ini merupakan strategi pasar supaya mendulang penonton dalam pasar lebih luas? Terutama penonton ABG? Dan film-film ini ternyata laku di bioskop sekitar kita… Damn!

Ciri-ciri film ini relatif sama. Tampilkan aktor atau aktris berpenampilan menarik dengan proporsi badan yang bagus. Kemudian minta si aktris untuk mengenakan pakaian dengan batas rok atau celana beberapa puluh centi diatas lutut (“Bupati”, Buka paha tinggi-tinggi) dengan belahan dada rendah (“Sekwilda”, Sekitar wilayah dada). Berikan jalan cerita remeh temeh seperti cinta monyet atau perselingkuhan. Terakhir, minta si aktris, yang notabene masih berusia belia, untuk melakukan adegan ciuman, pelukan, atau tidur bareng dengan si aktor cowok (yang juga masih berusia muda). Ckckckck… Mau dibawa kemana moral bangsa ini???

Sedihnya lagi, film-film ini nampaknya memang rencana dirilis pasca lebaran. Film seperti Kutunggu Jandamu, Barbie, Kawin Kontrak lagi, dan Suami-Suami Takut Istri… Well, memang bulan syawal berarti iblis-iblis sudah lepas dari kerangkengnya, tampaknya. Termasuk juga iblis syahwat yang tertawa terbahak-bahak ketika anak-anak dibawah umur menonton sampah yang kita sebut film ini. Apakah ini berarti kita sudah kehilangan sense of crisis kita?

Saya tidak bermaksud menggurui sama sekali terhadap para penonton film-film Indonesia. Tapi saya berusaha untuk mengaplikasikan ilmu yang saya dapat dari FIM dulu. Menonton film pengumbar syahwat berarti membiarkan meme yang jahat bercokol di dalam otak anda. Jangan heran apabila banyak terjadi kasus perkosaan anak di bawah umur atau pelecehan seksual di media masa. Dan juga jangan heran lagi, saat sense kita menjadi tumpul karena sudah terbiasa dengan hal-hal ini, maka sudah saatnya standar moral bangsa ini dipertanyakan.

Maka teman, disaat kamu merasa joke yang seksual dari film-film diatas menghiburmu hingga tertawa terbahak-bahak. Maka ingatlah, si fulan (berusia belasan tahun) yang memperkosa si fulanah (berusia dibawah jumlah jari tangan kita) karena hewan moluska diantara pahanya berada dalam kondisi libido tinggi karena film-film sejenis ini. Atau cerita tentang kakek yang memperkosa cucunya sendiri. Ataulah cerita tentang pasangan remaja belia yang apes karena mesti menikah karena kondomnya bocor. Apakah pernah terpikir olehmu tentang hal ini? Pilihlah tontonan yang bersahabat dan cerdas. Jangan biarkan sampah berada dalam hidupmu. Bukankah kita sebagai penonton memiliki hak untuk memilih?

Kemudian saya bertanya-tanya… Apakah para produser film ini sudah tidak menemukan ide yang menarik lagi untuk dijadikan film? Well, maaf saja saya bukan ahli dalam perfilman, tetapi bagi saya menonton film adalah menonton sesuatu yang kreatif. Kreatif dalam artian selalu ada hal yang baru untuk ditambahkan, menambah nilai dalam kehidupan peradaban manusia. Atau jangan-jangan inilah resep pengeruk uang paling jitu? Please deh, bahkan dalam setiap franchise film James Bond yang penuh dengan adegan bobo bareng pun mereka masih punya selera untuk membuat film dengan jalan cerita yang bagus. Bukankah kita orang timur yang konon katanya memiliki standar moral yang tinggi? Kemana perginya rasa malu itu???

Buat anda yang merupakan bagian dari film-film yang saya bahas diatas, baik pembuat maupun penontonnya, saya mohon maaf apabila kata-kata saya terlalu kasar dan keras. Tapi ini merupakan bentuk keprihatinan saya terhadap kondisi yang akut ini. Hal ini saya utarakan karena saya percaya bahwa kemungkaran merajalela bukan saja karena orang jahat mampu melakukan kemungkaran tesebut, melainkan juga karena orang baik membiarkannya terjadi. Dan untuk anda produser film, sutradara, maupun penulis naskah, belajarlah dari Laskar Pelangi, Denias, Janji Joni, maupun Dragon Zakura. Belajarlah dari Andrea Hirata, Riri Riza, dan Garin Nugroho. Masih banyak tema-tema menarik untuk dijadikan film yang bagus, salah satunya adalah mengenai mimpi dan cita-cita… Topik postingan saya berikutnya.

Maju terus perfilman Indonesia!!!

26
Sep
08

Laskar Pelangi The Movie

Perhatian. Post yang anda baca ini mengandung Spoiler

Laskar Pelangi

Laskar Pelangi

Huff… Finally nonton juga film yang satu ini. Film yang sangat bagus, benar-benar keren. Sinematografinya keren, ceritanya bagus, dan pesan moral dibelakangnya pun luar biasa, aktingnya pun bagus banget. A really good meme. Gak ngerasa rugi bayar selawi ribu buat nonton nih film di Blitz Megaplex.

Gue udah nunggu film ini keluar sejak membaca iklannya di koran Kompas beberapa minggu lalu di perpus TF. Setelah itu gue langsung ngesms seseorang buat ngajak nonton film ini dan dia bersedia. Sayangnya pas hari H dia sedang berhalangan. Hmmm, mungkin karena cemburu? Alhasil gue nonton ama kabinet Shana. Not bad at all… Sambil nonton sekalian kenalan ama anak-anak baru, menambah koleksi jaringan gue.

Lucunya, sebenarnya gue berencana nonton besoknya.. Karena mau ngerjain TA dulu pas malamnya. Sayangnya ternyata gue terbujuk dan teracuni, apalagi menimbang kemungkinan tidak bisa pulang diantar radix karena waktu nonton film yang udah mepet. Walhasil, gue cuma bisa bilang gini ke nandar via sms “gue milih nonton laskar pelangi, sayonara TA”

Hehehe… semoga Pak Andri (pembimbing gue) tidak baca blog ini, kalo tidak mampus deh gue….

Oh ya, satu hal mengenai kepopuleran film ini. Pas malam jumat ketika film ini diputar perdana ada satu fenomena menarik. Apakah itu? Di status teman-teman gue di YM via HP mereka menulis hal yang senada: “ITB pindah ke Ciwalk XXI”. Hehehe… inilah dampak sebuah film, begitu banyaknya mahasiswa ITB yang nonton pas malam itu sehingga kalo rektor ITB mau mengadakan kuliah umum bisa dilakukan di bioskop XXI ciwalk. Bravo buat orang-orang yang tahu tontonan bagus itu seperti apa…. Btw Jangan-jangan Masjid Salman sepi ya pas salat tarawihnya? Orang-orangnya pada nonton semua. PARAH… 🙂

Back to our main topic… Laskar Pelangi bisa gue katain sebagai Film Indonesia terbaik yang pernah gue tonton selama tahun 2008 ini. Tema ceritanya boleh dibilang beda ama yang lain. Sedikit banyak ngingetin gue ama proyek “Anak Seribu Pulau” nya Garin Nugroho yang diputar pas jaman gue SD-SMP. Two Thumbs up untuk Andrea Hirata, Riri Riza, dan Mira Lesmana…. 

Sinopsis cerita film ini bisa dibaca di sini.

Kalo postingannya Iqbal di blognya ngebahas mengenai asal usul nama sekolah yang berarti waktu luang hingga kepakarannya roy suryo, gue bakal meliat film ini dari sisi humanisnya. Sekolah adalah penting. Tidak ada tawar menawar dalam hal ini. Semua orang berhak untuk mengecap tetes manis kehidupan yang bernama pendidikan. Bahkan hal ini sudah termaktub dalam Pasal 31 UUD 45, salah satu dasar peraturan terpenting di negara ini yang kedudukannya cuma setingkat berada di bawah pancasila.

Pendidikan yang diusung oleh Andrea Hirata dalam novelnya yang fenomenal itu tidak hanya mengandung pengertian bahwa sekolah mengajarkan ilmu pasti belaka. Melainkan juga pembangunan karakter, norma-norma dan budi pekerti terhadap peserta didiknya. Miskin bukan halangan, bahkan idiot pun bukan rintangan. Ingat tentang Harun dalam film ini yang menggambar kucing di lembar jawabannya? Sekolah bukanlah tempat untuk mendikte orang untuk menjadi hitam putih. Melainkan justru untuk belajar menikmati warna pelangi, mejikuhibiniu.

Laskar Pelangi Bersama bu Muslimah

Laskar Pelangi Bersama bu Muslimah

Well, filmnya sendiri bukan berarti tanpa cacat. Gue ngeliat film ini penuh dengan unsur humanis dan humor yang terkadang dipaksakan. Di tengah-tengah film diceritain si Ikal (andrea waktu masih kecil) sedang jatuh cinta pada A Ling, anak pemilik toko kelontong langganan SD 1 Muhamadiyah. Di tengah badai asmara itu, A Ling pindah ke Jakarta dan memberi Ikal gambar Paris (spoiler: tempat kuliah Andrea saat mengambil S2 adalah di kota Sorbonne, Prancis). Di saat seperti itu scene digambarkan sepi, bahkan toko yang runtuh pun tidak dapat mengusik hati Ikal yang gundah gulana. LEBAYYYY!!!!

Setelah itu terdapat adegan tari-menari khas India yang dinyayikan oleh Mahar, sahabat Ikal, dengan menggunakan langgam melayu khas Rhoma “oma” Irama. Wooops, agak sedikit mengikuti pola film India ya? Tapi perlu disaluti juga nih si Riri Riza atas usahanya. Sekalipun sekali lagi gue ngerasa gimana gitu kalo yang ngebawainya anak kecil, lucu plus jayuz hehehehe 😀

Selain itu film ini juga mengurangi beberapa detil informasi dari bukunya. Detil info seperti nama buaya yang selalu ditunggu oleh Lintang ketika mau sekolah (namanya Bondenga kalo mau tahu), Pekerjaan Lintang setelah gede adalah sopir truk di Belitong, dan yang datang ke pulau hantu sebenarnya cuma dua orang: Mahar dan Ikal. Tapi gak pa-pa, bisa dimaklumi karena durasi film yang pendek (2 setengah jam mirip kaya The Dark Knight).

Di saat nonton film ini gue kepikiran satu hal yang terus mengganggu: “Coba kalo pengurus dan pengajar rumah belajar nonton film ini barengan ya? Kayaknya bisa nambah motivasi buat terus berjuang memajukan pendidikan di sekitar sangkuriang” Bagaimana tidak, sambil menonton ini gue selalu diingetin akan pentingnya belajar dan pendidikan. Tema yang cocok banget kalo film ini diputar pas malam keakraban rumah belajar. Melihat Bu Muslimah dan Pak Harfan yang tetap semangat mengajar sekalipun kondisi ekonomi pas-pasan dan jumlah murid cuma sepuluh benar-benar menohok gue (dan semoga aja rekan-rekan rumah belajar yang lain): “Mereka saja bisa berjuang atas nama pendidikan sekalipun hidupnya susah, kenapa kita tidak mencoba membangun rumbel menjadi lebih baik dengan nama almamater gajah sakti yang kita miliki?” Perih…

Gue bakal menutup postingan ini dengan sebuah cerita tentang Lintang, sahabat si Ikal. Lintang dikisahkan sebagai anak yang cerdas dan bersemangat tinggi mengejar arti pendidikan. Kemampuan belajarnya tinggi, bahkan dia mampu menunjukkan kesalahan panitia cerdas cermat sewaktu lomba. Lintang rela bersepeda hingga SDN 1 Muhamadiyah yang jaraknya cukup jauh bahkan mesti melewati sarang buaya untuk pergi bersekolah. Bahkan quotenya Lintang adalah “Kita harus sekolah, Kal.” Betapa telihat kalau si Lintang begitu mencintai kehidupan sekolah bahkan bersungut ketika sekolah usai. Gue ngerasa iri ama dia… He love school very much, i don’t think my relationship with my almamater is that good….

Di akhir novelnya, Andrea menulis bahwa Lintang menjadi sopir truk karena dia mesti putus sekolah pas SD saat bapaknya meninggal dunia. Tapi yang tidak diketahui oleh orang banyak, terakhir kali Andrea kesana… Lintang sudah menghilang.

Betapa sayangnya apabila bangsa ini kehilangan Lintang-Lintang yang lain. Orang-orang cerdas yang dapat menjadi aset bangsa bahkan peradaban. Kunci untuk membangun bangsa dan memperbaiki keadaan terpuruk kita saat ini adalah melalui mereka, kuncinya dengan cuma satu kata: PENDIDIKAN!

Pengen tau lebih banyak tentang film ini? Klik link ini

PS: Terima kasih buat Shana yang udah mengundang buka puasa dan nonton film, Karin yang bersedia menjadi host yang baik, dan Kuti yang ngebeliin tiket. Jazakilah khairan katsira (semoga Allah membalas kebaikanmu).

23
Sep
08

Film Holywood Versi Basa Sunda

a. Saving Private Ryan – Nulungan si Rian

b. Enemy At The Gate – Musuh Ngajedog di Pager

c. Die Hard – Teu Paeh-Paeh

d. Die Hard II – Can Paeh Keneh

e. Die Hard III With A Vengeance – Nya’an euy Hese Pisan Paehna

f. Bad Boys – budag bedegong

g. Rocky – Osok Neunggeulan Batur

h. Rain Man – Lalaki Cicing di Bogor

i. Here’s Something About Marry – Ari Ceu Meri Teh Kunaon?

j. Mission Impossible – Moal Bisa

k. Titanic – Tilelep

l. Paycheck – Nganjuk Heula

m. Reign of Fire – Beubeuleuman

n. Original Sin – Tara Ka Mesjid

o. Sleepless In Seattle – Cenghar Di Ciateul

p. Silence of The Lambs – Embe Pundung

q. Ghost – Jurig Kasep

r. Bad Boys – Budak Baong

s. Are We There Yet? – Lila Teuing Nepina Euy?

t. Home Alone – Tinggaleun

u. Casablanca – Mengkol Ti Sudirman

v. Gone In Sixty Seconds – Indit Siah Kaditu!

w. The Awakening – Hudang Sare

x. After The Sunset – Tereh Maghrib




Human Calender

My beloved reader

  • 126,419 orang

Survei Mahasiswa

Tok…Tok… Anybody Home?

Love to Click

  • Tidak ada

A little bit about my personality

Click to view my Personality Profile page

Our visitors